KEMATIAN: GERBANG MENUJU DUNIA BARU

Haidar Bagir

Kematian adalah satu-satunya jalan pembebasan untuk mencapai kebahagiaan sempurna. Hakikat kematian adalah terpisahnya ruh dari badan. Hubungan ruh dengan badan berkaitan dengan bentuk seutuhnya. Ia memiliki peran penting bagi badan secara sempurna. Kematian, tentu saja terjadi atas izin Allah SWT. Kematian: Tempat Terbaik

Sungguh ‘kematian’ adalah kata yang sensasional dan menakutkan! Sekadar menyebutkannya saja, hati menjadi terkoyak, senyum minggat dari bibir, dan rasa senang segera sirna, karena ia menimbulkan kekhawatiran, depresi, serta mendorong segala bentuk pemikiran kusut.

Hidup dan mati tak dapat dipisahkan. Andai tiada kehidupan, tidak mungkin ada kematian. Oleh karena itu, kematian harus ada supa hidup memiliki makna. Segala sesuatu, baik bintang yang paling besar di langit maupun partikel terkecil di muka bumi – bebatuan, tumbuhan, binatang – sepat atau lambat akan hancur. Semua itu diadakan satu per satu akan dikembalikan ke alam ketiadaan. Semuanya akan berubah menjadi debu dan sirna.

Dengan kematian, api nafsu yang berkilau dan kesemrawutan menghilang. Semua peperangan, perselisihan, dan pembunuhan di kalangan manusia akan berakhir. Keganasan, konflik, serta pemujaan diri mereka surut di kedalaman tanah yang dingin dan lubang sempit kuburan. Bila kematian tidak ada, pasti manusia akan merindukannya. Betapa kehidupan terasa menakutkan dan menyakitkan jika tiada akhir.

Kematianlah yang meletakkan fisik bungkuk kita, wajah keriput dan badan kita yang merana ke tempat peristirahatan. Kematian mengurangi kesedihn dan duka kehidupan. Kau bagaikan seorang ibu pengasih yang memeluk dan membelai anaknya, lalu menidurkannya selepas badai. Seringkali kau berbeda dari kehidupan yang terkadang pahit dan kejam. Berbeda dengan kehidupan yang sering menyeret kita pada kesesatan dan kebejatan moral, lalu melemparkannya ke pusaran air dosa yang mengerikan.

Manusia telah menciptakan citra dirimu yang mengerikan, padahal kau adalah malaikat yang muli, dianggap sebagai iblis yang mengamuk. Mengapa mereka takut padamu? Mengapa mereka menganggapmu sebagai kegelapan, padahal kau adalah cahaya yang memancar. Kau adalah keberuntungan tetapi mereka berkabung dengan jerit tangis, duka, dan ratapan. Kaulah pembuka pintu harapan bagi kaum yang tidak memiliki harapan. Kau patut mendapat pujian. Kau abadi!

Kematian: Menuju Sebuah Dunia Baru

“Lihatlah mereka yang telah mendahului kita,” demikian Nachiketa – sang anak bangsawan berusia enam belas tahun yang bertanya dalam Katha Upanishad. “Jutaan orang laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Kemana mereka pergi?” Persis seperti T.S Elliot ketika ia mengamati orang berjalan melintasi Jembatan London, tanpa muka dan tanpa nama dalam kabut pagi, dan tiba-tiba (baca: di dunia ini tidak ada yang ‘tiba-tiba’ – ed.) melihat jalan dari dunia ini menuju dunia selanjutnya. London lenyap. Dia, Dante, berdiri di tepi sungai Styx dalam perjalanannya ke tanah orang mati. “Begitu banyak! Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa kematian telah merenggut begitu banyak orang.” Lantas, kemana? Untuk tujuan apa?

Suatu kali Nasruddin Hoja ditanya temannya, “Kapan kiamat terjadi?” “Kiamat apa yang kau maksud?”, Nasruddin balik bertanya. “Apakah kiamat itu lebih dari satu?”, temannya bertanya. “Ya,” jawab Nasruddin, “Ada kiamat besar dan kiamat kecil. Kiamat kecil adalah ketika isteriku mati. Dan kiamat besar adalah ketika aku yang mati,” tambahnya.

Tentu saja Hoja saat itu bercanda. Tapi ia benar ketika dia mengaitkan kiamat dengan kematian. Hanya saja, kiamat kecil bagi seseorang adalah kematiannya, sebelum kelak ia dibangkitkan kembali ketika kiamat besar terjadi. Ibnul Qayyim al-Jawzi berkata: “Maut adalah kebangkitan dan tempat kembali (ma’ad) pertama. Allah menciptakan dua tempat kembali dan dua kebangkitan bagi anak cucu Adam. Dalam keduanya Allah membalas orang jahat dengan kejahatan yang setimpal dan membalas orang baik dengan kebaikan yang lebih besar.”

Tapi, apa makna kematian (maut) itu? Lisanul ‘Arab mengartikan kata ‘maut’ sebagai padam, diam, tenang, tak bergerak. Sebagaimana kehidupan bermula, ketika ruh ditiupkan ke jasadm maka kematian terjadi ketika ruh terpisah dari badan. Maut juga berarti bergantinya keberadaan, dan berpindahnya (sesuatu) dari tempat satu ke tempat yang lain. Maka, jelaslah sabda Muhammad Rasulullah SAW, “Kalian diciptakan untuk keabadian, bukan untuk mengalami kemusnahan. Kematian sesuangguhnya adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain.” Yakni, dari rumah dunia ke rumah akhirat.

Kematian adalah ketika ruh meninggalkan badan, sebagaimana pelaut meninggalkan kapalnya yang karam, begitulah ucap Syeikh Abbas al-Qummi. Atau bagaikan secercah cahaya yang meninggalkan suatu tempat, dan membiarkannya menjadi padam dan gelap kembali, persis seperti saat ia belum masuk ke dalamnya.

Selain ‘maut’, Al Qur’an juga menggunakan istilah ‘wafat’ untuk menunjuk makna mati. Murtadha Muthahari membuat sebuah analisis yang menarik tenang kata ‘tawaffa’ (mati) yang berakar pada kata yang sama dalam bahasa Persia yang memiliki bunyi hampir sama, yakni ‘faut’. Menurut Murthada Muthahhari, sebagian orang Persia mengira kedua istilah ini bersala dari kata yang sama. Mereka mengira bahwa ‘wafat kard’ – ‘faut kard’. ‘Faut’ berarti hilang, atau lepas dari pegangan. Jika istilah ‘wafat’ bermakna sama dengan ‘faut’, maka kematian akan memiliki konotasi hilang atau musnah. Kenyataannya, makna istilah ‘faut’ malah berkebalikan dengan makna istilah ‘wafat’ yang dipergunakan oleh Al Qur’an untuk menyatakan ‘kematian’. Sebaliknya, dari ‘lepas dari pegangan’, istilah ‘tawaffa’ berarti mengambil sesuatu dan menerimanya secaranya secara sempurna. Contohnya, jika Anda mendapatkan kembali seluruh piutang Anda, dan bukan hanya sebagian, maka itu disebut sebagai ‘tawaffa’ atau ‘istifa’. Al Qur’an senantiasa mengaitkan kematian dengan ‘menerima secara sempurna.’

“Allah menerima (dengan sepenuhnya) jiwa-jiwa pada saat kematiannya.”

Di dalam surat al-Sajjad disebutkan: “Dan mereka berkata: ‘Apakah ketika kami telah lenyap (musnah) di dalam tanah, ami akan benar-benar menjadi ciptaan yang baru?’ Katakanlah: Malaikat ditugasi untuk menerimamu dan kpada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

Muthahhari menyimpulkan bahwa mati berarti dipindahkannya, atau diserahkannya (ruh) si mati dari satu alam ke alam yang lain. Malaikat-malaikat pesuruh Allah datang untuk menerimanya dan membawanya. Pada saat itu, ruh manusia diterima dalam keadaan utuh dan sempurnah. Tak ada yang musnah atau berkurang. Kemusnahan hanya bisa dilekatkan kepada wadah belaka.

Berhubungan dengan istilah ‘wafat’ ini, dikenal juga istilah ‘kematian kecil.’ Ynag ditunjuk oleh istilah ini adalah tidur. Benarkah? Allah SWT berfirman:

“Dan dialah yang mewafatkan kalian pada malam hari …?”

“Allah menggenggam jiwa manusia ketika matinya dan menggenggam jiwa (manusia) yang belum mati di waktu tidurnya? Maka dia tahanlah jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya, dan dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”

Memang, “Sesungguhnya,” kata Rasulullah SAW, “hidup manusia di dunia ini bagaikan mimpi.” Ia terjaga ketika mati.” “Dan pada hari itu,” ungkap Allah SWT, “Penglihatan akan menjadi terang-benderang.”

Makna perenungan Shakespeare berada di arah yang benar ketika ia bergumam, “Kita bagaikan obyek mimpi. Tumbuh besar, pergi ke sekolah, menikah, punya anak, cari uang, membelanjakan uang, dan menjadi tua. Dan hidup kita yang singkai ini digenapi dengan sebuah tidur.” Hanya kali ini kita mungkin bisa melanjutkan jawabannya yang tidak selesai itu. Kematian adalah transisi dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Bahkan dari sebuah mimpi – dari realitas virtual – ke realitas yang sejati. Dan kepada T.S Elliot, kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa di ujung Jembatan London itu terhampar dunia baru di mana cahayanya bersinar terang-benderang dan tak pernah padam.
Di ujung Jembatan London

Mulla Shadra mengatakan bahwa manusia di alam ini statusnya sebagai sesuatu yang dapat dilihat, di mana jiwa dan ruh tersembunyi dalam eksistensi Jasad. Ketika Tuhan berkehendak untuk mengirim jiwa tersebut dari alam ini ke alam perantara (barzakh), Dia membuat tubuh itu mati melalui tugas Malaikat Maut.

Tidak sepantasnya seorang anak manusia untuk takut dan sedih terhadap kematian. Dan ini bukan berarti ia harus mengharap kematian atau bunuh diri. Namun, hanya Dia-lah yang berhak menyambung dan memutuskan hubungan antara ruh dengan badan. Ibaratnya, kita menyewa tubuh ini untuk dijaga, diayomi, mengurus baik kelengkapan, kebersihan dan kesehatannya. Jika sewaktu-waktu Yang Punya meminta untuk kembali, kita akan mengembalikannya setidaknya dalam keadaan utuh, layaknya peminjam yang bertanggung jawab. Jika tanpa seizin-Nya kita mengembalikan, maka itu telah menyalahi ‘perjanjian’. Dan kita harus selalu ingat bahwa di ujung jalan Jembatan London itu terhampar Dunia Baru yang bahkan Sadeq Hedayat sendiripun mengatakan bahwa itu Abadi.

Setiap yang mati akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali untuk menerima balasan atas apa yang diyakini dan perbuatannya. Hal ini terjadi berurutan mulai dari kematian, alam kubur, alam barzakh, kemudian kiamat besar dan surga-neraka. Intinya, Kematian tidak hanya saja indah dan kita harus menjemput keindahan itu sesuka hati kita. Kematian adalah jalan untuk Perjumpaan dengan Sang Kekasih. Sehingga tidak mungkin dengan tangan kosong kita menghampiriNya. Ketika umur panjang diraih, itu pun juga merupakan kebahagiaan tersendiri di mana ia memiliki banyak lagi kesempatan untuk menyiapkan perbekalan bagi perjalanan panjang nanti. []

1 Tulisan ini berjudul asli “Marg” yang artinya “Kematian” dan ditulis oleh sastrawan besar dari Iran bernama Sadeq Hedayat (1903 – 1941), yang menulis novel magnum opus-nya berjudul ‘The Blind Owl’. Sumber: “Don Juan of Karaj” (Dastan Books).

2 Artikel ini ditulis oleh Haidar Bagir dalam Jurnal Al-Huda. Haidar Bagir adalah Pemimpin Umum Penerbit Mizan (sejak 1982).

Posted in Arsip, Sufisme | 2 Komentar

Caleg Stres Bisa Sembuh dengan Shalat Khusyu’

By Republika Newsroom
Jumat, 24 April 2009

BRISBANE — Para calon anggota legislatif (caleg) yang mengalami stres hingga gangguan jiwa karena gagal memenuhi ambisinya dalam Pemilu legislatif 9 April lalu bisa “diselamatkan” dengan terapi shalat khusyu’, kata Cendekiawan Muslim Abu Sangkan.

Kepada Antara yang menemuinya usai mengisi pengajian jamaah Perhimpunan Komunitas Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) tentang shalat khusyu’, Jumat malam, pendiri “Shalat Center” Bekasi ini mengatakan, terapi shalat “sangat dapat” membantu upaya penyembuhan para caleg Muslim yang stres itu.

“Shalat khusyu’ itu dapat menurunkan tingkat stres seseorang tanpa harus diberi obat-obatan penenang untuk menurunkan ketegangan syaraf di otaknya,” kata penulis buku populer “Pelatihan Shalat Khusyu’ – Shalat Sebagai Meditasi Tertinggi dalam Islam” itu.

Sejak meluasnya pemberitaan tentang caleg-caleg yang stres berat dan harus dirawat di rumah sakit jiwa usai penyelenggaraan Pemilu 9 April lalu, Abu Sangkan mengatakan, belum ada caleg yang datang ke “Shalat Center” Jati Bening, Bekasi, untuk mengikuti pelatihan shalat khusyu`.

“Saya persilahkan mereka datang ke Shalat Center. Untuk sementara, saran saya kepada mereka adalah shalatlah dua rakaat, tundukkan hati, dan rileks supaya tingkat stresnya menurun,” katanya.

Pemilu legislatif 9 April lalu diikuti 11.255 orang caleg dari 38 partai politik untuk memperebutkan 560 kursi di DPR-RI.

Sementara itu, dalam ceramahnya, Abu Sangkan menjelaskan secara panjang lebar tentang filosofi shalat dan hubungannya dengan aspek kejiwaan manusia dengan pendekatan teori psikologi dan Qur`ani.

Penulis buku “Berguru Kepada Allah” dan “Abu Sangkan Menjawab” ini mengatakan orang Islam yang shalatnya khusyu` akan menyehatkan jiwa dan raganya serta menghindarkan dia dari terkena stroke dan stres.

“Jarang sekali orang yang shalatnya sudah benar terkena sakit migran karena otaknya terisi oksigen secara maksimal … Perasaan gelisah juga bisa hilang dengan shalat yang benar,” katanya.

Kehadiran Abu Sangkan di Brisbane merupakan rangkaian kunjungannya ke lima kota di Australia untuk memberikan pelatihan shalat khusyu`-nya kepada komunitas Muslim Indonesia.

Selain di Brisbane, kegiatan pelatihan yang berlangsung dari 9 hingga 29 April itu juga berlangsung di Perth, Adelaide, Melbourne, dan Sydney. ant/ism

Posted in Arsip, Shalat | Tinggalkan komentar

Shalat, Titik Awal Menuju Kebangkitan

Republika,1 September 2004
Laporan : yus

Shalat tak sekadar hubungan pribadi antara manusia dan Allah. Shalat
mengandung dimensi yang sangat luas. Shalat yang khusyuk tak hanya
mendekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dapat menjadi
daya dorong untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tertib,
saling menolong, senang bekerja keras, dan saling mengingatkan di
dalam kebaikan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi dan peluncuran buku berjudul
Pelatihan Shalat Khusyu’: Shalat Sebagai Meditasi Tertinggi Dalam
Islam karya Abu Sangkan. Acara yang diadakan dalam rangka
memperingati peristiwa Isra Miraj itu digelar di Jakarta, 22
September 2005.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah, ketika memberikan
keynote speech mengatakan diskusi buku tersebut merupakan hal yang
tepat. Tepat dalam temanya dan tepat waktunya, yakni diadakan
bersamaan dengan peringatan Isra Miraj. ”Karena Isra Miraj adalah
sebagai titik awal dari turunnya perintah shalat kepada umat Nabi
Muhammad. Tepat waktunya karena dia adalah dalam kondisi di saat
bangsa kita berusaha bangkit dari krisis dan sedang melewati masa
transisi menuju masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Burhanuddin menambahkan, pembicaraan yang menyangkut hal-hal
spiritual memang merupakan topik yang sangat menarik dan makin banyak
diadakan. ”Mungkin benar bahwa dalam keadaan tertentu kita
memerlukan pembicaraan-pembicaraan yang sifatnya spiritual ini
sehingga kita tidak bisa membendung lagi pendapat orang yang
mengatakan bahwa diskusi, pembicaraan tentang agama atau penganutan
terhadap agama merupakan mekanisme pendukung bagi kita untuk bisa
bertahan.”

Tanpa agama, maka kecemasan, was was, penyakit, depresi bahkan bunuh
diri merupakan fenomena sosial yang tidak bisa diterangkan kecuali
dengan pemahaman yang berlebih daripada kehidupan keseharian. ”Sikap
keberagamaan, diskusi-diskusi spiritual yang khusyuk dalam pandangan
saya menjadi salah satu cara untuk itu,” ujarnya.

Menurut Burhanuddin, shalat mestinya tidak hanya berdampak ritual,
tapi juga sosial. ”Andaikata nilai ibadah kita, nilai kekhusyu’an
kita bisa ditransmisikan ke dalam kehidupan sosial kita, ke dalam
kehidupan pekerjaan kita dan ke dalam kebermainan kita di dalam
bermasyarakat saya kira bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar.
Kekhusyukan kita dalam membangun bangsa ini, dalam membangun agama
kita akan memberikan manfaat yang sangat besar,” paparnya.

Sementara itu cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat yang juga tampil
pada diskusi tersebut menyatakan sangat sangat terkesan dengan cover
buku tersebut. ”Dari sekian banyak buku-buku agama mungkin buku ini
yang termasuk inspiring, eksentrik atau fungki atau apalah what ever
you made. Biasanya shalat itu masjid tapi ini justru ada danau atau
apalah terserah. Dari sini saja buku ini sudah lain dari yang lain,
bentuknya dan ukurannya,” tuturnya.

Komaruddin lalu menguraikan hikmah Isra Miraj. Awalnya orang-orang
kafir Quraisy tidak bisa totalitas menekan dan mengintimidasi
Rasulullah SAW, sebab ada kakeknya (Abdul Muthalib), pamannya (Abu
Thalib), dan istrinya (Siti Khadijah). Setelah ketiganya meninggal,
mereka leluasa memerangi Nabi bahkan mengadakan sayembara berhadiah
bagi siapa saja yang bisa membunuh Rasulullah. Di saat-saat genting
seperti itulah, Allah SWT memuliakan Nabi melalui Isra Miraj.
Peristiwa itu merupakan momentum kebangkitan bagi Rasullah SAW.

”Jadi, orang yang tercerahkan jiwanya, yang mencari kesinambungan
fokus pada Allah maka akan berani bangkit, menerobos kegelapan di
saat orang lain tidur lelap diselimuti oleh kegelapan Islam,”
tuturnya. Rasa ‘sambung’ inilah sebenarnya yang ditekankan buku
ini. ”Insya Allah dalam buku ini sudah saya uraikan bagaimana tune
in rasa sambung itu, ternyata rasa sambung itu setelah kita mencoba
menghubungkan, itu dampaknya tetap rasanya sampai berjam-jam, rasa
sambung itu,” tuturnya.

Posted in Arsip, Shalat | Tinggalkan komentar

Shalat Secara Khusyuk Penyembuh Berbagai Penyakit

Bulan suci Ramadhan segera tiba. Selain diwajibkan berpuasa, di bulan penuh berkah dan ampunan ini, umat Islam juga dianjurkan untuk meningkatkan ibadah. Shalat misalnya, jika biasanya hanya mengerjakan shalat wajib, coba lakukan juga shalat sunah. Kualitas shalat kita juga harus ditingkatkan. Caranya? Usahakan shalat secara khusyuk.

Jika selama ini, Anda kerap shalat kurang khusyuk lantaran dikejar pekerjaan, kini rasakan ketika Anda melakukan ibadah ini secara khusyuk. Niscaya, Anda akan merasakan sesuatu yang berbeda. Anda akan merasa lebih dekat dengan Allah SWT. Patut pula Anda catat, shalat yang dikerjakan secara khusyuk juga bermanfaat untuk kesehatan.

Seperti dijelaskan dr Mohammad Rudiansyah MKes, staf pengajar pada Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, shalat secara khusyuk yang membuat seseorang benar-benar pasrah kepada Allah, bisa menjadi terapi atau penyembuh, penawar bahkan obat bagi beberapa penyakit. Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Dijelaskan Rudiansyah, orang yang melakukan shalat dengan tenang dan rileks akan menumbuhkan energi tambahan dalam tubuhnya. Shalat berkualitas seperti ini juga mampu mengembalikan produksi endorphin di otak sehingga timbul rasa senang dan bahagia. Endorphin merupakan neurotransmiter (penghubung antara otak dengan seluruh jaringan syaraf dan pengendali seluruh fungsi tubuh) yang mirip opiat sehingga menimbulkan suatu euforia dan ketagihan. Nah, apabila seseorang mampu menikmati shalat karena bahagia bertemu Sang Pencipta, seperti seseorang yang bertemu kekasihnya, pastilah timbul perasaan bergetar, dada berdesir, serasa waktu berlalu dengan cepat, perasaan bahagia yang mendalam. ”Hal ini juga akan membangkitkan sistem kekebalan tubuh,”

Shalat secara khusyuk juga akan menurunkan kadar kortisol dalam darah. Apa ini artinya? Kortisol banyak berpengaruh terhadap kadar gula darah, kolesterol, dan lain-lain. Kortisol yang tinggi berpotensi meningkatkan pembentukan gula di hati, menaikkan berat badan karena distribusi lemak yang abnormal, juga meningkatkan tekanan darah. ”Hal inilah salah satunya yang menjelaskan mengapa seseorang yang menderita diabetes mellitus (kencing manis) sering diikuti dengan kadar kolesterol tinggi, hipertensi, dan kegemukan,” ungkap dokter yang tengah menempuh pendidikan spesialis penyakit dalam di FK-UGM ini.

Lebih lanjut Rudiansyah mengatakan, ketika seseorang melakukan shalat secara khusyuk maka hatinya terasa lapang, pikiran jernih, badan terasa enteng, dan tenang. Kondisi seperti ini, kata dia, mampu menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan kejiwaan. ”Bagi seseorang yang mudah stres, jiwanya tidak tenang, depresi, serta pikiran selalu melayang-layang, maka shalat khusyuk akan mampu memperbaiki kondisi tersebut.”

Bagi sebagian Muslim, shalat khusyuk dianggap sangat sulit, bahkan tidak mungkin (mustahil). Mereka beranggapan, shalat khusyuk hanya milik para nabi atau wali. Sejatinya, tidaklah demikian. ”Kita pun pasti bisa mencapai shalat khusyuk asal berusaha menimbulkan rasa sambung, mengosongkan pikiran, berpasrah diri, dan menyerahkan semuanya kepada Allah.”
Hal senada juga dikatakan oleh Abu Sangkan, seorang ustaz asal Yogyakarta yang kerap memberi pelatihan shalat khusyuk. Ia juga dikenal sebagai penulis buku mengenai shalat khusyuk, salah satunya berjudul Pelatihan Shalat Khusyuk: Meditasi Tertinggi dalam Islam.

Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa shalat khusyuk tidaklah sulit, namun juga tidak mudah. Menurut Abu Sangkan, rasa khusyuk tidak dapat diciptakan. Hanya saja, kita dapat memasuki dan menerima rasa khusyuk tersebut. ”Kita hanya mendapatkan, bukan menciptakan rasa khusyuk itu. Karena, hanya Allah SWT saja yang memberikan khusyuk itu seperti juga rasa marah, benci, senang, dan lainnya, semua dari Allah,” tulis Abu Sangkan.
Jadi, jika selama ini Anda merasa tidak yakin bisa menjalankan shalat secara khusyuk, kini saatnya untuk berupaya melakukannya. Jika telah berhasil melakukannya, bersiaplah untuk memetik manfaatnya.

Manfaat gerakan shalat
Betapa bermanfaatnya shalat khusyuk bagi kesehatan juga dikemukakan oleh dr Triwahyudi, peneliti pada Shalat Center Yogya. Selama empat minggu meneliti para peserta pelatihan shalat khusyu’ yang dipimpin oleh Ustaz Abu Sangkan, Triwahyudi menemukan, terjadi penurunan tekanan darah yang signifikan pada para peserta. Disimpulkan, shalat khusyuk mampu menurunkan tekanan darah (lihat tulisan kedua).

Gerakan-gerakan shalat, menurut dia, juga memiliki makna penting bagi kesehatan. Contohnya gerakan rukuk yang sangat baik pengaruhnya terhadap kesehatan tulang belakang seperti punggung dan pinggang. ”Dalam keseharian, kadang kita tidak menyadari posisi yang tidak baik untuk tulang punggung. Akibatnya, terjadi kelainan yang menimbulkan nyeri pinggang.”
Kelainan yang cukup sering terjadi adalah HNP (Hernia Nucleus Pulposus) atau serabut syaraf terjepit. Triwahyudi kemudian bercerita tentang seorang penderita HNP di Solo, Jawa Tengah, yang karena kelainan ini hingga tak mampu lagi berjalan. Namun, berkat menjalankan shalat khusyuk dan posisi rukuk yang cukup lama, maka serabut syaraf yang semula terjepit akhirnya terbuka. Hal ini dimungkinkan karena pada saat rukuk, posisi tulang belakang meregang sehingga aliran di daerah tersebut menjadi lebih lancar. Ini sejalan dengan salah satu hadis riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban yang artinya,”Apabila kamu rukuk, letakkanlah kedua telapak tanganmu pada lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jarimu, lalu diamlah, sehingga setiap anggota badan (ruas tulang belakang) kembali pada tempatnya.”

Posisi sujud juga memiliki arti yang tak kalah penting bagi kesehatan. Sujud merupakan bukti bahwa manusia menyembah Allah dengan serendah-rendahnya. ”Pada posisi ini, aliran darah ke otak menjadi lebih besar karena gaya gravitasi sehingga akan memperkuat pembuluh darah otak dan Insya Allah mampu mencegah pecahnya pembuluh darah di otak (stroke). Banyak orang melakukan meditasi dengan jungkir balik (kepala di bawah) yang tujuannya juga sama. Ternyata dalam shalat juga sudah ada.”
(nri )
Sumber Republika,9 September 2007

Posted in Arsip, Shalat | Tinggalkan komentar

Panduan Aktifasi BlackBerry BIS Indosat

1. Pelanggan melakukan aktifasi Layanan BlackBerry®

1. BlackBerry® Regular
Datang ke Galeri Indosat terdekat untuk aktifasi Paket BlackBerry untuk Kartu Matrix atau Broadband

2. BlackBerry® On Demand
Pelanggan Kirim SMS ke 889 melalui Kartu Matrix, Matrix Auto, Mentari atau IM3

Caranya:
Kirim SMS: BIS1Merktype untuk paket BOD mingguan
Kirim SMS: BIS2Merktype untuk paket BOD bulanan

Contoh:
BIS2 BB 8310

Tunggu sampai Paket BlackBerry® aktif ditandai dengan logo GPRS/EDGE/3G (huruf capital)
Kemudian dianjurkan untuk Hard Reset BlackBerry®nya dengan cara mencabut Baterai dan kemudian dimasukkan kembali dan diaktifkan.

2. Pelanggan melakukan aktifasi account di BlackBerry® Web Client

* Browsing ke www.indosat.blackberry.com
Pilih menu ”Create New Account”

* Kemudian akan muncul halaman “Terms and Conditions”
Klik pada “I have read and understand the Legal Terms and Conditions”
Klik “I Agree”

* Masukan PIN dan IMEI BlackBerry® anda dan Klik Continue

Cara mengetahui PIN dan IMEI anda pada handset BlackBerry®
• Masuk ke Menu Option
• Masuk ke Menu Status

Cara mengetahui PIN dan IMEI anda pada handset NON BlackBerry dapat dilihat pada info devicenya infonya (System BlackBerry)

* Masukan Username dan password yang dikehendaki dan kemudian ketik NEXT

* Masukan Email account yang ingin di synchronize dengan BlackBerry.
Masukan Username untuk email pada @indosat.blackberry.com (optional)
Kemudian klik NEXT
* Email anda sudah ter registrasi.
Untuk menambahkan email lain klik SET UP ACCOUNT

* Masukkan alamat email anda dan password kemudian klik NEXT
Untuk memasukkan email lain dilakukan dengan cara yang sama.

* Daftar email yang telah dimasukkan akan terlihat di “valid email account”
Untuk melakukan perubahan baik menghapus email, edit informasi dapat dilakukan dengan cara klik pada menu Edit di sebelah kanan dari setiap list email account.

* Anda dapat melakukan perubahan “sender from” dan signature dari setiap email account anda

* Setelah selesai setting email, klik menu Service Books pada list menu di sebelah kiri.

* Klik Send Service books untuk mensinkronisasi semua setting account BlackBerry® pada handset.

* Setelah selesai, silahkan LOG OUT account dan tunggu beberapa menit sampai email mulai masuk ke handset BlackBerry®.

BlackBerry® anda siap digunakan.

Posted in Arsip, Techno | Tagged | Tinggalkan komentar