Oleh Edi Agusman, SHI Sebagai manusia yang cerdas dan berbudi pekerti yang mulia, sudah menjadi keharusan untuk selalu melirik, memperhatikan dan mengintrospeksi diri terhadap tingkah laku yang diperbuat, apakah telah melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat. Manusia terkadang lupa dan lalai atas beberapa nikmat yang telah didapatkan. Manusia terbuai dan terpesona dengan nikmat dan kebahagiaan sebagai hasil jerih payah yang secara maksimal diusahakan. Manusia sering mengalami kebutaan mata hati dan pikiran tentang apa yang telah ia perbuat. Oleh sebab itu, tanpa disadari ia semakin jauh dari sumber yang telah di berikan keberhasilan dan kebahagiaan serta kesuksesan dalam menjalani hidup yang sementara ini. Bahkan tidak sedikit yang sudah jatuh dalam jalan kemungkaran dan kesesatan. Kita sebagai seorang muslim yang selalu mengharapkan ridha dan kasih sayang-Nya dalam menjalani kehidupan ini, tidak seharusnya menjauhi dan melupakan nikmat dan rahmat yang Allah berikan pada kita semua. Kita harus ingat bahwa tanpa pertolongan dan rahmat-Nya yang selalu tercurah, kita tidak akan memperoleh apa yang kita inginkan walaupun usaha tersebut sudah maksimal kita kerjakan sesuai dengan rencana dan prosedur yang matang. Untuk itulah, kita harus mampu memahami hakikat dan rasa syukur kita pada Allah SWT, bukan hanya sekadar sebagai kajian dan renungan, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita dapat mengimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Menguak Hakikat Makna Syukur Kata “syukur” ini dapat juga di artikan dengan “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya”. Dari pengertian ini dapatlah dipahami bahwa makna “syukur” ini memberikan dorongan kepada manusia agar menggunakan segala yang dianugerahkan Allah di alam raya ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya.Dengan demikian, jikalau kita mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang mensyukuri nikmat Allah SWT. Begitu juga sebaliknya, jikalau kita tidak mampu menggunakan nikmat yang Allah berikan pada tempatnya, secara otomatis kita termasuk orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an, kata “syukur” biasanya diikuti oleh kata “kufur”, seperti firman Allah SWT. Yang berbunyi: “…Sesugguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nimat-Ku), maka sesugguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS.ibrahim /14:7). Dari ayat diatas, kata “syukur” juga dapat diartikan dengan “menampakkan sesuatu kepermukaan”, sedang kata “kufur” diartikan dengan “menutupi”.oleh sebab itu, cara menampakkan nikmat Tuhan antara lain dalam bentuk memberikan sebagian dari nikmat yang Allah berikan kepada pihak yang membutuhkan. Sedangkan cara menutupi nikmat tersebut ialah dengan bersifat kikir kepada orang lain. Dengan demikian, dapatlah kita ketahui bahwa untuk mewujudkan rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan limpahan nikmat, kita harus mensyukuri dengan cara menampakkan rasa terima kasih kita kepada Allah SWT. Dengan kata lain bahwa ungkapan rasa syukur tersebut tidak hanya di buktikan dengan ucapan saja, akan tetapi lebih dari pada itu harus dilakukan melalui perbuatan. Menakar Rasa Syukur Kepada Allah SWT. Di samping itu juga kita berharap agar Allah SWT menjauhkan diri kita, keluarga, bangsa dan negara yang kita cintai dari bala serta kesengsaraan yang akan membuat kita hidup dalam kemiskinan. Akan tetapi, pada masa sekarang ini, tidak sedikit manusia yang ingkar terhadap nikmat-nikmat-Nya. Kebanyakan manusia mengangap “boleh jadi dengan rasa keangkuhan” bahwa harta kekayaan, kemewahan yang ia dapatkan semata-mata hasil kerja kerasnya. Mereka lupa bahwa semua itu adalah berkat karunia dan nikmat Allah yang dicurahkan-Nya melalui rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semua manusia. Oleh sebab itu, ia merasa berat memberikan sedikit harta yang ia punyai kepada orang yang membutuhkan. Pada hal, pada hakikatnya, di dalam harta benda yang ia miliki terdapat sebagian hak orang miskin (orang yang membutuhkan) yang harus diberikan yang menjadi kewajibannya Melalui makna syukur dan gambaran fenomena manusia dalam menghayati nikmat dan karunia Allah SWT. Di atas, kita sebagai muslim yang menyakini janji dan ancaman Allah, sewajarnyalah kita selalu merenungi dan mengintrospeksi diri apakah kita telah menggunakan nikmat-Nya kejalan yang benar, apakah kita sudah termasuk pada orang-orang yang pandai mensyukuri nikmat-Nya atau kita telah melupakan nikmat-Nya bahkan menjauhkan diri kita sendiri dari keridhaan-Nya? Di penghujung tahun ini, mari sama-sama kita perbaiki rasa syukur kita kepada Allah SWT. Dari diri kita sendiri agar kita tidak diberi-Nya kesulitan dan kesengsaraan dalam menjalani kehidupan ini. (Penulis adalah Mahasiswa S2 IAIN-Medan Dan Dosen STAIS Tebing Tinggi) Sumber: Waspada Online |
Menilai Rasa Syukur kepada Allah SWT
Oktober 7, 2009 oleh Editor
