Check this out on Pinterest.

Bookshelves – http://pinterest.com/pin/A5k1UgAQQAMD8Q4aPNwAAAA/?s=4&m=wordpress

Dipublikasi di Archives | 1 Komentar

Wafat

Saat jasad ditinggalkan ruh
Wafat namanya
Jasad terbujur
Kehidupan berubah
Ruh kembali kepadaNya
Ruh yang ada dalam jasad manusia
Kembali kepada pemilikNya
Itulah kematian jasad
Itulah awal kehidupan baru ruh
Babak baru alam ruh yang akan diarungi bersama saat akhir zaman
Kembali kepadaNya merupakan kebahagiaan
Bagi mereka yang sadar akan Sang Pencipta
Innalilahi wa inna ilaihi rojiun

Bintaro 11/6/13

Dipublikasi di Al Hikmah | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Dunia

Nikmat dunia hanya dirasakan sedetik

Bila dibanding umur panjang bumi

Sudah banyak manusia menikmati dunia seisinya

Namun lupa akan hari berpulang

Hari yang pasti

Tidak ada yang meragukannya

Sejarah yang berulang

Akankah kita melalaikannya

Saat kepastian adalah pasti

Mutlak adanya

Dunia bisa membutakan manusia karena alpa akan jadwal pulang

Dunia manis rasanya bila ruh hadir dengan Dzikrullah

Dunia kan patih karena jauh dari Nya

Jakarta 9/12/12

Dipublikasi di Al Hikmah | Meninggalkan komentar

Metode Mengaktifkan Kembali Jatidiri yang Sejati (Rasa) dan Abadi (Ruh) dalam Hidup dan Kestabilan (Raga) dalam Kehidupan

Oleh Iskandar Juarsa

ALLAH SWT telah membeirkan ke-Maha Kuatan dan Kuasaan-Nya secara fakta data yang nayata pada sejarah diciptakannya diri manusia menjadi sangat esensi untuk dikaji secara totalitas melalui pandangan hidup dan kehidupan yang hakiki pasti, utuh menyeluruh, agar tidak terbiaskan oleh kepentingan kehidupan yang negative, sempit yang bertumpu pada kehidupan yang terjepit oleh kemusrikan dan kekufuran diri pada ALLAH, dan pada kehidupan dengan sesama manusia dan makhluk ALLAH lainnya.

Ketika ALLAH menciptakan manusia untuk hadir dalam hidup dan kehidupan dialam batiniyah dan lahiriyah, maka kehadirannya tidak sekaligus Rasa, Ruh dan Raga, namun secara bertahap melalui alam transit yaitu alam Rahim yang ALLAH tempatkan pada seorang wanita yang diberikan keistimewaan oleh ALLAH memiliki ketawaqalan yang luarr biasa, dimana peristiwa terjadinya menerima transit Rasa, Ruh dan Raga, mengalami gejolak pada tubuh seorang wanita sangat dahsyat melebihi dari goncangan gempa bumi, badai, dan peristiwa alam lainnya, betapa sulit seorang wanita yang akan meningkat menjadi seorang ibu, untuk menghindari perubahan pada badannya ketika akan menerima kehamilan yang ditakdirkan oleh ALLAH, pada saat Rasa, Ruh dan Raga calon bayi bertransit dirahimnya, karena ketika Rasa dan Ruh menjalin komunikasi dialogis dengan makhluk-makhluk ALLAH yang ada di rahim untuk membentuk tubuh mengalami perubahan-perubahan yang cukup ekstrim, perubahan dari kondisi panas ke dingin atau sebaliknya, dari normal ke mual, dari sehat menjadi terasa sakit di sebagian tubuh dst, peristiwa seperti ini tidak akan sanggup kalau dijalankan oleh seorang laki-laki atau pria yang bakal menjadi calon bapak.

PERISTIWA TRANSITNYA RASA, RUH DAN RAGA

ALLAH SWT memerintahkan Rasa calon manusia yang akan dijinkan untuk hadir ke dunia setelah ada permohonan dari pasangan yang akan menjadi calon isteri suami, yang kelak akan menjadi bapa dan ibu yang akan menyanggupi untuk menerima amanah dan titipan ALLAH, agar dipelihara untuk menindak lanjuti perjuangan hidup dan kehidupan dimasa-masa berikutnya, Rasa calon seorang bayi dihadirkan oleh ALLAH SWT pada pasangan pria – wanita yang akan menjadi calon isteri – suami, dalam masa penjajagan dan penyesuaian untuk bisa saling beraslih (silih asah, asih dan asuh), ketika satu sama lain saling berlitaaruf (berkenalan), Rasa calon bayi yang akan diamanahkan dan dititipkan oleh ALLAH, mensupport dan memacu keduanya untuk menerima taqdirullah, memasuki jenjang kehidupan fase kedua yaitu kehidupan berumah tangga, yaitu kehidupan yang memiliki tahapan-tahapan, dimana tahap pertama kehidupan bertawakal, tahap kedua kehidupan bertaqwa, tahap ketiga kehidupan bertawadlo, tahap keempat kehidupan beristiqomah, tahap kelima kehidupan ber-Mardlotullah, tahap keenam kehidupan ber-Mahabatullah dan tahap ketuju kehidupan yang ber-Ma’rifatullah, apa yang dilakukan oleh Rasa calon bayi menjadi semangat untuk menjalin keduanya, memperjuangkan diri untuk menerima taqdirullah memasuki jenjang pernikahan, setelah berhasil perjuangan yang dilakukan oleh Rasa calon bayi, selanjutnya memohon kepada ALLAH untuk diberi pendamping dan sahabat, pada saat itu juga ALLAH memerintahkan Ruh calon bayi hadir mendampingi Rasa, Ruh dan Rasa calon bayi memotivasi isteri –suami untuk menjalin hubungan biologis, untuk menerima taqdirullah yang akan menghadirkan sahabat keduanya yaitu Raga, pasca hubungan biologis suami –isteri, kemudian Rasa dan Ruh bersyahadat kepada ALLAH alias bersumpah kepada ALLAH untuk bertauhid (bersatu) dan bertasauf(mendekatkan) diri hanya kepada ALLAH SWT saja, dengan mengamalkan Syahadat kepada ALLAH, maka Rasa dapat menjalankan ke-Maha Kuatan ALLAH dan Ruh dapat menjalankan ke-Maha Kuasaan ALLAH, kemudian Rasa dan Ruh ini menjalin amal bersama untuk melakukan proses persahabatan dengan Raga, melalui jalinan komunikasi dialogis yang dilakukan oleh Rasa dan Ruh dengan komponen yang akan membentuk Raga, diantaranya dengan Api (fosfor) untuk membentuk tulang, Angin untuk menghimpun oksigen yang dibutuhkan, Air untuk mengalirkan darah, Tanah untuk membentuk tubuh menjadi daging, unsur tanaman, dan khewan.

Pembentukan tubuh seorang bayi di alam rahim, yang dilakukan oleh Rasa dan Ruh adalah untuk melaksanakna Ibadah pada ALLAH dan Amaliyah dengan sesama makhluk ALLAH lainnya yang ada di alam rahim seorang calon Ibu pemegang amanah dan titipan dari ALLAH, proses kerja Rasa dan Ruh ketika menjalin komunikasi dialogis dengan Api, Angin, Air, Tanah, unsur Tanaman dan Khewan berbasis pada Ikhlas-Nya ALLAH dan Fitrohnya Nabi Muhmmad saw, kesidiqan, kesucian dan kemunian unsur Api, Angin, Air, Tanah, unsur Tanaman dan Khewan pada saat membentuk tubuh yang berupa tulang, daging, darah dan terhimpunnya oksigen tidak menimbulkan adanya kendala dan masalah, sehingga kesulitan yang menghambat dan menghalangi serta penyakit yang akan memjadikan gagal praktis tidak ada sama sekal, hal ini terjadi akibat dari kedua calon orang tua bayi yang menopang dengan Ikhlas dan Fitroh, Ikhlasnya kedua calon orang tua bayi itu tidak lain secara totalitas bertauhid(memastikan diri) hanya kepada ALLAH saja, kepastian akan menerima bayi sebagai amanah ALLAH, karena hanya ALLAH yang menciptakan bayi yang diamanhkan, dan Fitrohnya karena bertasauf (meyakinkan diri) hanya kepada ALLAH, keyakinan menerima bayi sebagai titipan ALLAH, sebab bayi yang dititpkan itu milik ALLAH yang diijinkan untuk menjalankan hidup dan kehidupan bdersama-sama dengan kedua orang tuanya.

Oleh sebab itu ALLAH memberikan ke-Maha Kuatan dan ke-Maha Kuasaan kepada kedua orang tua bayi, bekal untuk dapat memelihara bayi sebagai anak yang merupakan Amanah dan Tiipan ALLAH, ketika kedua orang tua ini senantiasa mengalirkan Mardlotullah kepada anaknya dengan berbasis pad Rohman Rohim-Nya ALLAH, maka ALLAH akan menjadikan anak itu penindak lanjut perjuangan kedua orang tuanya yang selalu berauhid dan bertasauf kepada ALLAH, dalam menjalankan Ibadah kepada ALLLAH dan Amal dengan sesama manusia dan makhluk ALLAH lainnya, maka anak menindak lanjuti perjuangan kedua orang tuanya, dalam menjalankan hidupnya senantiasa ibadah hanya ditujukan kepada ALLAH untuk memelihara pertolongan dengan bertauhid Rasa kepada ALLAH, dan kehidupannya selalu beraamal dengan hanya berharap kepada ALLAH akan diberikan kekuatan berupa Ilmu yang hanya dimiliki oleh ALLAH, kekuasaan berupa potensi (kemampuan/skill), yang hanya ALLAH yang dapat memberikan, hal seperti ini hanya ada pada anak yang soleh dan solehat yang diberi hak oleh ALLAH untuk menerima waris berupa amal jariah yang benar dan baik menurut ALLAH, yang berguna untuk dirinya dan bermanfaat untuk orang lain dan ilmu yang berguna untuk meningkatkan ketauhidan dan ketasaufan dirnya pada ALLAH.

Uraian yang terpaparkan diatas merupakan substansi yang hakiki dari kesejatian bertauhidnya Rasa pada ALLAH, yang menumbuhkan poses produktifitas kinerja Rasa yang Ikhlas   pada diri manusia dan keabadian bertasaufnya Ruh pada ALLAH, yang menampilkan proses produktifitas kinerja Ruh yang Fitroh, kesejatian Rasa dan keabadian Ruh ini berorientasi pada kesejatian dan keabadian mengamalkan Syahadat sebagaimana Rasa dan Ruhnya pemimpin umat Nabiyullah Muhammad Rasulullah, yang tidak pernah putus mengamalkan Syahadat untuk bertauhid dan bertasauf pada ALLAH AJJA WA JALLA.

KESEJATIAN DIRI MANUSIA TERLETAK PADA RASA YANG IKHLAS

ALLAH SWT menempatkan Rasa manusia di alam Bathin, dimana alam bathin merupakan alam yang paling dekat dengan alam Ilahiyah, tempat ALLAH menyebarkan dan mengalirkan seluruh kewenangan ALLAH yang berkaitan dengan 20 sifat ALLAH yang akan diteladani oleh Rasa dan 99 Asma Allah yang direalisasikan oleh Rasa dalam memimpin dan memberikan teladan untuk mengabdi pada ALLAH secara kaffah (totalitas) pada seluruh makhluk yang diciptakan oleh ALLAH, oleh sebab itu Kitabullah yang berisikan Aturan, Ketentuan dan Hukum ALLAH, diperintahkan dan dianjurkan oleh ALLAH pada manusia untuk dijalankan sebagai bukti pengabdian diri pada ALLAH dan direalisasikan dalam pengamalan ketika melakukan komunikasi dialogis dengan sesama manusia, juga dengan seluruh makhluk yang diciptakan oleh ALLAH.

Aturan ALLAH yang menjadi basis tumpuan Rasa bertauhid secara mutlak pada ALLAH adalah Naqli, kebersatuan Rasa dengan ALLAH tidak dapat terpisahkan oleh apapun menjadi basis yang paling utama untuk bertauhid kepada ALLAH secara Mutlak, pedoman ketentuan Rasa bertauhid pada ALLAH adalah Rukun Ikhsan, pedoman keteladan Rasa untuk menteladani ALLAH, hanya Sunnatullah yaitu Al Qur”an.

Intergrated Method and System pada Aturan, Ketenttuan dan Hukum yang dijalankan Rasa, menjadikan kesejatian diri yang dibangun oleh Rasa untuk diteladankan pada Ruh dan Raga, agar Ruh menjalankan Aqli, Rukun Iman dan sunatul Rasul yang tertuang pada Hadist secara terpadu bermetode dan sistematis, begitupula Raga ketika melaksanakan Adi, Rukun Islam dan Sunatul Auliya ALLAH yang ada pada Manaqib atau Riwayat Hidup.

Kesejatian diri yang dibangun dan dikelola oleh Rasa menjadi fondasi yang kuat yang diproses oleh Rasa dengan IKHLAS untuk membangun ketasaufan Ruh pada ALLAH yang sangat konsekwen dan konsisten, pada saat Ruh menjalankan keyakinan untuk menerima ke-Maha Kuasaan ALLAH, sehimgga gerakan yang dilakukan oleh Ruh pada seluruh organ tubuh menjadi gerakan yang sinkron, sistematis, harmonis dan serasi.

Nurullah yang Maha Sejati mengalir pada Rasa, tidak dapat dihalangi dan dikalahkan oleh sinar apapun, seperti sinar matahari dan sinat lampu, tidak terganggu oleh gelap dan terangnya alam, dst, pancaran Nurullah pada Rasa , menjadikan Rasa memiiki kesejatian diri yamg hakiki yamg ditetapkan oleh ALLAH SWT, sehingga bisa mengintegrasikan system kerjasama dengan Ruh dan Raga, menghasilkan Sinkronisasi dan Harmonisasi gerakan Ruh dan menumbuhkan Ketenangan dan Kebahagiaan pada Raga, menjalin komunikasi dialogis dengan ALLAH SWT, Rasa dan Ruh para Nabi dan Rasul, para Sahabat, Tabiit-Tabiin, Waliyullah, Ulama serta Mukhsinin-Mukhsinat, Mu’minin – Mu’minat, Muslimin- Muslimat juga dengan seluruh makhluk ALLAH lainnya.

KEABADIAN DIRI MANUSIA TERLETAK PADA RUH YANG FITROH

Ruh adalah merupakan partner ibadah Rasa yang konsekwen dan konsisten yang ditaqdirkan oleh ALLAH SWT, dan diposisikan oleh ALLAH di alam Ruh atau alam Malakut/Malaikat, keabadian Nur Muhammad yang mengalir pada Ruh, menghasilkan kefitrohan yang mendasari proses kerja sama Ruh dengan Raga dalam melakukan amaliyah dengan sesama manusia dan makhluk ALLAH lainnya, produktifitas kinerja yang mengedepankan kesucian dan kebersihan dalam beramal menjadi karakter Ruh yang abadi, yang tidak akan berubah dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun, proses komunikasi dialogis yang berbasis Ilahiyah pada kemanusiaan yang beradab sangat diteladankan oleh Ruh tehadap makhluk ALLAH, baik yang ada di sekitar intern organ tubuh dan badan maupun ekstern tubuh dan badan.

Aqli, Rukun Iman dan sunatul Rasul yang tertuang pada Hadist merupakan pedoman yang paling utama dijadikan referensi berproduktifitas kinerja pada saat RUH melakukan aktifitas amaliyah bersama-sama dengan Raga, dengan konsisten dan konsekwen Ruh menggerakan seluruh organ tubuh yang ada di Raga dengan gerakan yang suci dan bersih (fitroh), sehingga menghasilkan sehat dan kesehatan pada badan alias Raga, hal ini menunjukkan bahwa Ruh diberi kekuasaan yang abadi oleh ALLAH SWT, secara berkesinambungan sampai batas akhir yang telah ditentukan oleh ALLAH SWT.

Nur Muhammad yang diperkenankan oleh ALLAH, untuk mengalir pada Ruh secara abadi, pada saat beramal bersama-sama dengan Raga atau setelah keluar dari Raga, posisi Ruh sangat strategis, ketika Ruh bersama-sama dengan Rasa, Ruh melakukan gerakan ibadah kepada ALLAH dengan Rasa, begitupula deengan Raga, Ruh melakukan gerakan amaliyah bersama-sama dengan Raga, oleh sebab itu gerakan Ruh adalah gerakan Abadi yang menjadi jatidiri Ruh yang memiliki basis gerakan yang Fitroh.

KESTABILAN DIRI MANUSIA TERLETAK PADA RAGA YANG JUJUR

Ketauhidan (kebersatuan) Rasa dengan ALLAH, menumbuhkan kepastian pada Raga, ketasaufan (kedekatan) Ruh pada ALLAH menghasilkan keyakinan pada Raga, kejujuran Raga yang menjadikan Rasa sebagai penggerak yang pasti dan Ruh yang melakukan gerakan yang meyakinkan, maka kesetabilan realisasi menjalankan kehidupan akan berada dalam kepastian dan keyakinan, yang insya ALLAH, terhindar dari kendala dan masalah dan senantiasa kejujuran menjadi karakter Raga.

Adi, Rukun Islam dan Sunatul Auliya ALLAH yang ada pada Manaqib atau Riwayat Hidup yang menjadi basis utama untuk dijadikan pedoman dan teladan dalam melakukan produktifitas kinerja Raga dalam melakukan amaliyah bersama-sama dengan Ruh, ketika Raga akan melakukan aktifitas harus diawali dengan pedoman yang ALLAH sampaikan dalam Al Qur’an, Surat Al Jaljalah yaitu WA MAA YAMAL MISQOLA JAROTIN KHOIRU YAROH, awali setiap kali akan melakukan aktifitas dengan sikap yang positif optimis, kemudian Nabi Muhammad saw menganjurkan : AL YAQIN LAA YAJALU BI SAQ, lakukan aktifitas itu dengan keyakinan dan jauhi hal-hal yang menimbulkan keragu-raguan/khawatir, pedoman ini sangat kuat melekat pada Rasa dan Ruh, maka ketika Raga menjadikannya sebagai basis utama dalam melakukan aktifitas insya ALLAH, amaliyah yang dilakukan akan stabil sehingga hasilnya konstruktif yang produktif postif.

Nur Ibrahim yang akan menjadi basis kejujuran Raga, karena amal yang dilakukan oleh Raga senantiasa mengedepankan proses Ikhlas – Fitroh, yang akan menumbuhkan kestabilan merealisasikan kehidupan secara berkesinambungan, yang menjadikan diri menjadi Khoiru Naas Yanfaulinnas, amaliyah yang selalu berdaya guna dan berhasil guna, yang akan diwariskan pada generasi berikutnya sebagai penerus tidak lain adalah Amal yang berguna buat diri dan bermanfaat untuk siapapun yang mengalir terus tanpa berhenti, Ilmu yang didapat dari ALLAH berguna buat diri dan bermanffat untuk orang lain yang akan melanjutkan perjuangan beribadah dan beramal.

METODE PENGEMBALIAN KESEJATIAN, KEABADIAN DAN KESTABILAN

ALLAH SWT telah memerintahkan dan menganjurkan untuk memproses produktifitas kinerja Rasa dengan IKHLAS, Ruh dengan FITROH, dan Raga dengan JUJUR, agar menghasilkan kondisi hidup yang sejati dan abadi, situasi kehidupan yang stabil, sehingga komunikasi dialogis yang dilakukan di alam transit yaitu alam rahim dengan unsur Api dapat membentuk tulang, unsur Angin dapat menghimpun oksigen, Air dapat mengalirkan darah, dan Tanah dapat membentuk daging, menghasilkan organ tubuh yang lengkap dan bentuk tubuh yang sempurna, terjadinya penyusunan organ tubuh dan pembentukan tubuh didasarkan pada konsisten Rasa, Ruh dan Raga bertawadlo dan beristiqomah pada 3 Aturan ALLAH : Naqli, Aqli dan Adi, 3 Ketentuan ALLAH : IKhsan, Iman dan Islam dan 3 Hukum ALLAH : Sunnatullah, Sunatul Rasul dan Sunatul Auliya ALLAH, 3+3+3 sampailah pada 9 bulan untuk bertawadlo dan beristiqomah pada Aturan, Ketentuan dan Hukum ALLAH inilah, akhirnya ALLAH memperkenankan Rasa, Ruh dan Raga yang dibungkus oleh organ tubuh dan tubuh yang sempurna yang disebut BAYI (Binalah Akhlak Yang Insani), untuk lahir alias pindah dari alam transit (Rahim) ke alam dunia (lahiriyah), untuk menjalankan tugas hidup menjalankan Ibadah dan kewajiban kehidupan melaksanakan Amaliyah.

Setelah lahir ke alam dunia/lahiriyah, Ikhlanya Rasa, Fitrohnya Ruh dan Jujurnya Raga, mulai terkontaminasi dan terpoulsikan oleh kebiasaan nafsu yang menjadi landasan hidup dan kehidupan yang dijalankan oleh orang tuanya dan orang lebih dahulu lahir ke alam lahiriyah, Rasa ditutupi oleh Nafsu Lawammah yang musyrik pada ALLAH, serakah dengan sesama manusia dan makhluk ALLAH lainnya, Ruh terhijan oleh Nafsu Amarah yang kufur pada ALLAH dan sombong terhadap sesama manusia dan makhluk ALLAH lainnya, Raga tergantikan oleh Nafsu Khewani yang munafik pada ALLAH, berprasngka jelek terhadap sesama makhluk. Akumulasi tertutupnya Rasa, terhijabnya Ruh dan tergantikannya Raga oleh nafsu-nafsu tersebut diatas, berdampak tidak mengenal Rasa, Ruh dan Raga serta tidak mengakui ALLAH yang Maha Menciptakannya, akibatnya kesejatian Rasa, keabadian Ruh dan Kestabilan Raga, terkubur dan terabaikan.

Untuk mengatasi hal tersebut diatas, diperlukan metode alias cara alias thoreqat, yang absyah menurut ALLAH SWT, yang telah ALLAH turunkan dan disampiakan pada Nabi Muhmmad saw melalui Malaikat Jibril, kemudian ditindak lanjuti oleh pada Sahabat, Tabiit-Tabiin, Waliyullah dan Ulama ALLAH, dimana para penerus perjuangan Nabi Muhammad saw ini tidak akan membias alias membelot dari Aturan, Ketemtuam dan Hukum ALLAH. Alhamdulilah metode atau cara/thoreqat ini telah kita dapatkan dan sedang dijalankan walaupun masih tersendat dan kadang-kadang terhambat, namun insya ALLAH dengan terus menerus dijalankan dan diamalkan akan mencapai hasil sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, Sahabat, Tabiit-Tabiin, Waliyullah dan Ulama ALLAH.

Metode dzikrullah yang harus djalankan oleh Rasa pada detak jantung dan Ruh pada ubun-ubun, ketika nafas ditahan, metode ini untuk mengembalikan kesejatian Rasa yang selalu bertauhid pada ALLAH, dan keabadian Ruh senantiasa bertasauf pada ALLAH, ketika bernafas, menarik nafas bunyikan ALLAH dalam batin, dan keluar nafas bunyikan HU dakam batin, hal ini untuk memelihara Raga ada dalam kestabilan kepastian dan keyakinan pada ALLAH. LAA TAKHOUF WA LAA TAHJAN INNALLAH MA’ANA, LAA HAULA WA LAA KUATTA ILLA BILAHIL ALIYUL AJIIM.

Dipublikasi di Al Hikmah | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

KEMATIAN: GERBANG MENUJU DUNIA BARU

Haidar Bagir

Kematian adalah satu-satunya jalan pembebasan untuk mencapai kebahagiaan sempurna. Hakikat kematian adalah terpisahnya ruh dari badan. Hubungan ruh dengan badan berkaitan dengan bentuk seutuhnya. Ia memiliki peran penting bagi badan secara sempurna. Kematian, tentu saja terjadi atas izin Allah SWT. Kematian: Tempat Terbaik

Sungguh ‘kematian’ adalah kata yang sensasional dan menakutkan! Sekadar menyebutkannya saja, hati menjadi terkoyak, senyum minggat dari bibir, dan rasa senang segera sirna, karena ia menimbulkan kekhawatiran, depresi, serta mendorong segala bentuk pemikiran kusut.

Hidup dan mati tak dapat dipisahkan. Andai tiada kehidupan, tidak mungkin ada kematian. Oleh karena itu, kematian harus ada supa hidup memiliki makna. Segala sesuatu, baik bintang yang paling besar di langit maupun partikel terkecil di muka bumi – bebatuan, tumbuhan, binatang – sepat atau lambat akan hancur. Semua itu diadakan satu per satu akan dikembalikan ke alam ketiadaan. Semuanya akan berubah menjadi debu dan sirna.

Dengan kematian, api nafsu yang berkilau dan kesemrawutan menghilang. Semua peperangan, perselisihan, dan pembunuhan di kalangan manusia akan berakhir. Keganasan, konflik, serta pemujaan diri mereka surut di kedalaman tanah yang dingin dan lubang sempit kuburan. Bila kematian tidak ada, pasti manusia akan merindukannya. Betapa kehidupan terasa menakutkan dan menyakitkan jika tiada akhir.

Kematianlah yang meletakkan fisik bungkuk kita, wajah keriput dan badan kita yang merana ke tempat peristirahatan. Kematian mengurangi kesedihn dan duka kehidupan. Kau bagaikan seorang ibu pengasih yang memeluk dan membelai anaknya, lalu menidurkannya selepas badai. Seringkali kau berbeda dari kehidupan yang terkadang pahit dan kejam. Berbeda dengan kehidupan yang sering menyeret kita pada kesesatan dan kebejatan moral, lalu melemparkannya ke pusaran air dosa yang mengerikan.

Manusia telah menciptakan citra dirimu yang mengerikan, padahal kau adalah malaikat yang muli, dianggap sebagai iblis yang mengamuk. Mengapa mereka takut padamu? Mengapa mereka menganggapmu sebagai kegelapan, padahal kau adalah cahaya yang memancar. Kau adalah keberuntungan tetapi mereka berkabung dengan jerit tangis, duka, dan ratapan. Kaulah pembuka pintu harapan bagi kaum yang tidak memiliki harapan. Kau patut mendapat pujian. Kau abadi!

Kematian: Menuju Sebuah Dunia Baru

“Lihatlah mereka yang telah mendahului kita,” demikian Nachiketa – sang anak bangsawan berusia enam belas tahun yang bertanya dalam Katha Upanishad. “Jutaan orang laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Kemana mereka pergi?” Persis seperti T.S Elliot ketika ia mengamati orang berjalan melintasi Jembatan London, tanpa muka dan tanpa nama dalam kabut pagi, dan tiba-tiba (baca: di dunia ini tidak ada yang ‘tiba-tiba’ – ed.) melihat jalan dari dunia ini menuju dunia selanjutnya. London lenyap. Dia, Dante, berdiri di tepi sungai Styx dalam perjalanannya ke tanah orang mati. “Begitu banyak! Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa kematian telah merenggut begitu banyak orang.” Lantas, kemana? Untuk tujuan apa?

Suatu kali Nasruddin Hoja ditanya temannya, “Kapan kiamat terjadi?” “Kiamat apa yang kau maksud?”, Nasruddin balik bertanya. “Apakah kiamat itu lebih dari satu?”, temannya bertanya. “Ya,” jawab Nasruddin, “Ada kiamat besar dan kiamat kecil. Kiamat kecil adalah ketika isteriku mati. Dan kiamat besar adalah ketika aku yang mati,” tambahnya.

Tentu saja Hoja saat itu bercanda. Tapi ia benar ketika dia mengaitkan kiamat dengan kematian. Hanya saja, kiamat kecil bagi seseorang adalah kematiannya, sebelum kelak ia dibangkitkan kembali ketika kiamat besar terjadi. Ibnul Qayyim al-Jawzi berkata: “Maut adalah kebangkitan dan tempat kembali (ma’ad) pertama. Allah menciptakan dua tempat kembali dan dua kebangkitan bagi anak cucu Adam. Dalam keduanya Allah membalas orang jahat dengan kejahatan yang setimpal dan membalas orang baik dengan kebaikan yang lebih besar.”

Tapi, apa makna kematian (maut) itu? Lisanul ‘Arab mengartikan kata ‘maut’ sebagai padam, diam, tenang, tak bergerak. Sebagaimana kehidupan bermula, ketika ruh ditiupkan ke jasadm maka kematian terjadi ketika ruh terpisah dari badan. Maut juga berarti bergantinya keberadaan, dan berpindahnya (sesuatu) dari tempat satu ke tempat yang lain. Maka, jelaslah sabda Muhammad Rasulullah SAW, “Kalian diciptakan untuk keabadian, bukan untuk mengalami kemusnahan. Kematian sesuangguhnya adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain.” Yakni, dari rumah dunia ke rumah akhirat.

Kematian adalah ketika ruh meninggalkan badan, sebagaimana pelaut meninggalkan kapalnya yang karam, begitulah ucap Syeikh Abbas al-Qummi. Atau bagaikan secercah cahaya yang meninggalkan suatu tempat, dan membiarkannya menjadi padam dan gelap kembali, persis seperti saat ia belum masuk ke dalamnya.

Selain ‘maut’, Al Qur’an juga menggunakan istilah ‘wafat’ untuk menunjuk makna mati. Murtadha Muthahari membuat sebuah analisis yang menarik tenang kata ‘tawaffa’ (mati) yang berakar pada kata yang sama dalam bahasa Persia yang memiliki bunyi hampir sama, yakni ‘faut’. Menurut Murthada Muthahhari, sebagian orang Persia mengira kedua istilah ini bersala dari kata yang sama. Mereka mengira bahwa ‘wafat kard’ – ‘faut kard’. ‘Faut’ berarti hilang, atau lepas dari pegangan. Jika istilah ‘wafat’ bermakna sama dengan ‘faut’, maka kematian akan memiliki konotasi hilang atau musnah. Kenyataannya, makna istilah ‘faut’ malah berkebalikan dengan makna istilah ‘wafat’ yang dipergunakan oleh Al Qur’an untuk menyatakan ‘kematian’. Sebaliknya, dari ‘lepas dari pegangan’, istilah ‘tawaffa’ berarti mengambil sesuatu dan menerimanya secaranya secara sempurna. Contohnya, jika Anda mendapatkan kembali seluruh piutang Anda, dan bukan hanya sebagian, maka itu disebut sebagai ‘tawaffa’ atau ‘istifa’. Al Qur’an senantiasa mengaitkan kematian dengan ‘menerima secara sempurna.’

“Allah menerima (dengan sepenuhnya) jiwa-jiwa pada saat kematiannya.”

Di dalam surat al-Sajjad disebutkan: “Dan mereka berkata: ‘Apakah ketika kami telah lenyap (musnah) di dalam tanah, ami akan benar-benar menjadi ciptaan yang baru?’ Katakanlah: Malaikat ditugasi untuk menerimamu dan kpada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

Muthahhari menyimpulkan bahwa mati berarti dipindahkannya, atau diserahkannya (ruh) si mati dari satu alam ke alam yang lain. Malaikat-malaikat pesuruh Allah datang untuk menerimanya dan membawanya. Pada saat itu, ruh manusia diterima dalam keadaan utuh dan sempurnah. Tak ada yang musnah atau berkurang. Kemusnahan hanya bisa dilekatkan kepada wadah belaka.

Berhubungan dengan istilah ‘wafat’ ini, dikenal juga istilah ‘kematian kecil.’ Ynag ditunjuk oleh istilah ini adalah tidur. Benarkah? Allah SWT berfirman:

“Dan dialah yang mewafatkan kalian pada malam hari …?”

“Allah menggenggam jiwa manusia ketika matinya dan menggenggam jiwa (manusia) yang belum mati di waktu tidurnya? Maka dia tahanlah jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya, dan dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”

Memang, “Sesungguhnya,” kata Rasulullah SAW, “hidup manusia di dunia ini bagaikan mimpi.” Ia terjaga ketika mati.” “Dan pada hari itu,” ungkap Allah SWT, “Penglihatan akan menjadi terang-benderang.”

Makna perenungan Shakespeare berada di arah yang benar ketika ia bergumam, “Kita bagaikan obyek mimpi. Tumbuh besar, pergi ke sekolah, menikah, punya anak, cari uang, membelanjakan uang, dan menjadi tua. Dan hidup kita yang singkai ini digenapi dengan sebuah tidur.” Hanya kali ini kita mungkin bisa melanjutkan jawabannya yang tidak selesai itu. Kematian adalah transisi dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Bahkan dari sebuah mimpi – dari realitas virtual – ke realitas yang sejati. Dan kepada T.S Elliot, kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa di ujung Jembatan London itu terhampar dunia baru di mana cahayanya bersinar terang-benderang dan tak pernah padam.
Di ujung Jembatan London

Mulla Shadra mengatakan bahwa manusia di alam ini statusnya sebagai sesuatu yang dapat dilihat, di mana jiwa dan ruh tersembunyi dalam eksistensi Jasad. Ketika Tuhan berkehendak untuk mengirim jiwa tersebut dari alam ini ke alam perantara (barzakh), Dia membuat tubuh itu mati melalui tugas Malaikat Maut.

Tidak sepantasnya seorang anak manusia untuk takut dan sedih terhadap kematian. Dan ini bukan berarti ia harus mengharap kematian atau bunuh diri. Namun, hanya Dia-lah yang berhak menyambung dan memutuskan hubungan antara ruh dengan badan. Ibaratnya, kita menyewa tubuh ini untuk dijaga, diayomi, mengurus baik kelengkapan, kebersihan dan kesehatannya. Jika sewaktu-waktu Yang Punya meminta untuk kembali, kita akan mengembalikannya setidaknya dalam keadaan utuh, layaknya peminjam yang bertanggung jawab. Jika tanpa seizin-Nya kita mengembalikan, maka itu telah menyalahi ‘perjanjian’. Dan kita harus selalu ingat bahwa di ujung jalan Jembatan London itu terhampar Dunia Baru yang bahkan Sadeq Hedayat sendiripun mengatakan bahwa itu Abadi.

Setiap yang mati akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali untuk menerima balasan atas apa yang diyakini dan perbuatannya. Hal ini terjadi berurutan mulai dari kematian, alam kubur, alam barzakh, kemudian kiamat besar dan surga-neraka. Intinya, Kematian tidak hanya saja indah dan kita harus menjemput keindahan itu sesuka hati kita. Kematian adalah jalan untuk Perjumpaan dengan Sang Kekasih. Sehingga tidak mungkin dengan tangan kosong kita menghampiriNya. Ketika umur panjang diraih, itu pun juga merupakan kebahagiaan tersendiri di mana ia memiliki banyak lagi kesempatan untuk menyiapkan perbekalan bagi perjalanan panjang nanti. []

1 Tulisan ini berjudul asli “Marg” yang artinya “Kematian” dan ditulis oleh sastrawan besar dari Iran bernama Sadeq Hedayat (1903 – 1941), yang menulis novel magnum opus-nya berjudul ‘The Blind Owl’. Sumber: “Don Juan of Karaj” (Dastan Books).

2 Artikel ini ditulis oleh Haidar Bagir dalam Jurnal Al-Huda. Haidar Bagir adalah Pemimpin Umum Penerbit Mizan (sejak 1982).

Dipublikasi di Arsip, Sufisme | 2 Komentar

Caleg Stres Bisa Sembuh dengan Shalat Khusyu’

By Republika Newsroom
Jumat, 24 April 2009

BRISBANE — Para calon anggota legislatif (caleg) yang mengalami stres hingga gangguan jiwa karena gagal memenuhi ambisinya dalam Pemilu legislatif 9 April lalu bisa “diselamatkan” dengan terapi shalat khusyu’, kata Cendekiawan Muslim Abu Sangkan.

Kepada Antara yang menemuinya usai mengisi pengajian jamaah Perhimpunan Komunitas Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) tentang shalat khusyu’, Jumat malam, pendiri “Shalat Center” Bekasi ini mengatakan, terapi shalat “sangat dapat” membantu upaya penyembuhan para caleg Muslim yang stres itu.

“Shalat khusyu’ itu dapat menurunkan tingkat stres seseorang tanpa harus diberi obat-obatan penenang untuk menurunkan ketegangan syaraf di otaknya,” kata penulis buku populer “Pelatihan Shalat Khusyu’ – Shalat Sebagai Meditasi Tertinggi dalam Islam” itu.

Sejak meluasnya pemberitaan tentang caleg-caleg yang stres berat dan harus dirawat di rumah sakit jiwa usai penyelenggaraan Pemilu 9 April lalu, Abu Sangkan mengatakan, belum ada caleg yang datang ke “Shalat Center” Jati Bening, Bekasi, untuk mengikuti pelatihan shalat khusyu`.

“Saya persilahkan mereka datang ke Shalat Center. Untuk sementara, saran saya kepada mereka adalah shalatlah dua rakaat, tundukkan hati, dan rileks supaya tingkat stresnya menurun,” katanya.

Pemilu legislatif 9 April lalu diikuti 11.255 orang caleg dari 38 partai politik untuk memperebutkan 560 kursi di DPR-RI.

Sementara itu, dalam ceramahnya, Abu Sangkan menjelaskan secara panjang lebar tentang filosofi shalat dan hubungannya dengan aspek kejiwaan manusia dengan pendekatan teori psikologi dan Qur`ani.

Penulis buku “Berguru Kepada Allah” dan “Abu Sangkan Menjawab” ini mengatakan orang Islam yang shalatnya khusyu` akan menyehatkan jiwa dan raganya serta menghindarkan dia dari terkena stroke dan stres.

“Jarang sekali orang yang shalatnya sudah benar terkena sakit migran karena otaknya terisi oksigen secara maksimal … Perasaan gelisah juga bisa hilang dengan shalat yang benar,” katanya.

Kehadiran Abu Sangkan di Brisbane merupakan rangkaian kunjungannya ke lima kota di Australia untuk memberikan pelatihan shalat khusyu`-nya kepada komunitas Muslim Indonesia.

Selain di Brisbane, kegiatan pelatihan yang berlangsung dari 9 hingga 29 April itu juga berlangsung di Perth, Adelaide, Melbourne, dan Sydney. ant/ism

Dipublikasi di Arsip, Shalat | Meninggalkan komentar

Shalat, Titik Awal Menuju Kebangkitan

Republika,1 September 2004
Laporan : yus

Shalat tak sekadar hubungan pribadi antara manusia dan Allah. Shalat
mengandung dimensi yang sangat luas. Shalat yang khusyuk tak hanya
mendekatkan hubungan manusia dengan Tuhan, tapi juga dapat menjadi
daya dorong untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tertib,
saling menolong, senang bekerja keras, dan saling mengingatkan di
dalam kebaikan.

Hal itu mengemuka dalam diskusi dan peluncuran buku berjudul
Pelatihan Shalat Khusyu’: Shalat Sebagai Meditasi Tertinggi Dalam
Islam karya Abu Sangkan. Acara yang diadakan dalam rangka
memperingati peristiwa Isra Miraj itu digelar di Jakarta, 22
September 2005.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah, ketika memberikan
keynote speech mengatakan diskusi buku tersebut merupakan hal yang
tepat. Tepat dalam temanya dan tepat waktunya, yakni diadakan
bersamaan dengan peringatan Isra Miraj. ”Karena Isra Miraj adalah
sebagai titik awal dari turunnya perintah shalat kepada umat Nabi
Muhammad. Tepat waktunya karena dia adalah dalam kondisi di saat
bangsa kita berusaha bangkit dari krisis dan sedang melewati masa
transisi menuju masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Burhanuddin menambahkan, pembicaraan yang menyangkut hal-hal
spiritual memang merupakan topik yang sangat menarik dan makin banyak
diadakan. ”Mungkin benar bahwa dalam keadaan tertentu kita
memerlukan pembicaraan-pembicaraan yang sifatnya spiritual ini
sehingga kita tidak bisa membendung lagi pendapat orang yang
mengatakan bahwa diskusi, pembicaraan tentang agama atau penganutan
terhadap agama merupakan mekanisme pendukung bagi kita untuk bisa
bertahan.”

Tanpa agama, maka kecemasan, was was, penyakit, depresi bahkan bunuh
diri merupakan fenomena sosial yang tidak bisa diterangkan kecuali
dengan pemahaman yang berlebih daripada kehidupan keseharian. ”Sikap
keberagamaan, diskusi-diskusi spiritual yang khusyuk dalam pandangan
saya menjadi salah satu cara untuk itu,” ujarnya.

Menurut Burhanuddin, shalat mestinya tidak hanya berdampak ritual,
tapi juga sosial. ”Andaikata nilai ibadah kita, nilai kekhusyu’an
kita bisa ditransmisikan ke dalam kehidupan sosial kita, ke dalam
kehidupan pekerjaan kita dan ke dalam kebermainan kita di dalam
bermasyarakat saya kira bangsa ini akan menjadi bangsa yang besar.
Kekhusyukan kita dalam membangun bangsa ini, dalam membangun agama
kita akan memberikan manfaat yang sangat besar,” paparnya.

Sementara itu cendekiawan Muslim Komaruddin Hidayat yang juga tampil
pada diskusi tersebut menyatakan sangat sangat terkesan dengan cover
buku tersebut. ”Dari sekian banyak buku-buku agama mungkin buku ini
yang termasuk inspiring, eksentrik atau fungki atau apalah what ever
you made. Biasanya shalat itu masjid tapi ini justru ada danau atau
apalah terserah. Dari sini saja buku ini sudah lain dari yang lain,
bentuknya dan ukurannya,” tuturnya.

Komaruddin lalu menguraikan hikmah Isra Miraj. Awalnya orang-orang
kafir Quraisy tidak bisa totalitas menekan dan mengintimidasi
Rasulullah SAW, sebab ada kakeknya (Abdul Muthalib), pamannya (Abu
Thalib), dan istrinya (Siti Khadijah). Setelah ketiganya meninggal,
mereka leluasa memerangi Nabi bahkan mengadakan sayembara berhadiah
bagi siapa saja yang bisa membunuh Rasulullah. Di saat-saat genting
seperti itulah, Allah SWT memuliakan Nabi melalui Isra Miraj.
Peristiwa itu merupakan momentum kebangkitan bagi Rasullah SAW.

”Jadi, orang yang tercerahkan jiwanya, yang mencari kesinambungan
fokus pada Allah maka akan berani bangkit, menerobos kegelapan di
saat orang lain tidur lelap diselimuti oleh kegelapan Islam,”
tuturnya. Rasa ‘sambung’ inilah sebenarnya yang ditekankan buku
ini. ”Insya Allah dalam buku ini sudah saya uraikan bagaimana tune
in rasa sambung itu, ternyata rasa sambung itu setelah kita mencoba
menghubungkan, itu dampaknya tetap rasanya sampai berjam-jam, rasa
sambung itu,” tuturnya.

Dipublikasi di Arsip, Shalat | Meninggalkan komentar