Mencapai Khusyu’ dalam Shalat

this_1_ed27

Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, apa ihsan itu?” Rasulullah Saw bersabda: “Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah sesungguhnya Dia selalu melihatmu.” [HR. Muslim dan Abu Hurairah]

Ada dua dimensi dalam shalat. Keduanya amat penting untuk kita perhatikan agar dapat mencapai khusyu’ dalam shalat. Saat khusyu’ tercapai, seolah-olah kita melihat Allah dalam shalat. Kalau pun tak bisa melihat, kita yakin bahwa Allah melihat kita. Dua dimensi shalat itu adalah dimensi ritual dan dimensi substansial, dimensi lahir dan dimensi batin.

Namun, banyak kita temui di lingkungan sekitar kita, ada orang-orang yang mengabaikan salah satunya. Ada yang lebih mementingkan substansi shalat dan mengabaikan ritualnya. Mereka berpendapat, jika substansi shalat sudah tercapai, tak perlu lagi melakukan shalat secara ritual.

Di sisi yang berbeda, banyak juga orang yang rajin melakukan shalat tanpa disertai pemahaman akan substansinya. Mereka shalat hanya sekadar menggugurkan kewajiban saja.

Sebenarnya, bagaimana dua dimensi shalat itu bisa membantu kita mencapai kekhusyu’an?

Dimensi Ritual
Ritual muncul sejak manusia menyadari adanya kekuatan Maha Dahsyat yang melingkupi alam semesta ini. Kesadaran itu membuat manusia mencari bagaimana berhubungan dengan kekuatan itu. Mereka yakin, kedekatan hubungan antara dirinya dengan yang Maha Dahsyat itu akan menyelamatkannya dari segala musibah.

Keyakinan mereka akan terjadinya pertemuan itu menjadikan mereka merasakan gairah yang memuncak saat melaksanakan ritual. Hal ini diakui seorang ahli sejarah agama berkebangsaan Jerman, Rudolf Otto. Ia mengatakan, penciptaan ritual-ritual itu mendahului hasrat manusia untuk mengetahui asal-usul dunia. Tak hanya gairah yang memuncak, terkadang perasaan itu berwujud ketenteraman yang mendalam, bisa juga berupa kekaguman yang sangat kepada yang Maha Dahsyat itu.

Masyarakat Islam mengenal shalat sebagai sarana untuk berhubungan dengan Allah, Zat Yang Maha Segalanya. Ritual shalat sebenarnya sudah dilakukan kaum Muslim sebelum Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Di masa awal kerasulannya, Rasulullah Saw telah melaksanakan shalat bersama Siti Khadijah dan Ali bin Abi Thalib, walaupun shalat yang dilakukan baru sebagiannya yang dilakukan sekarang ini. Shalat lima waktu diwajibkan setelah Nabi Muhammad Saw menerima wahyu.

Ritual shalat terdiri dari gerakan, bacaan, dan waktu yang telah ditentukan. Jika ritual shalat dilaksanakan dengan gerakan yang benar, disertai dengan pemaknaan bacaannya, dan dilakukan dengan tenang dan berurutan [thuma’nînah], maka pelakunya akan sampai pada keadaan hati yang tenang dan berada pada kesadaran pikiran yang teratur. Keadaan seperti itu dinamakan dengan khusyu’. Khusyu’ menimbulkan perasaan seperti yang digambarkan oleh Rudolf Otto di atas. Dengan kata lain, seorang Muslim yang khusyu’ dalam shalatnya, ia seolah-olah melihat Allah. Seandainya tak bisa, ia merasa bahwa Allah melihatnya.

Benarkah ritual shalat bisa membawa pada kesadaran itu?
Belum ada penelitian mendalam tentang pencapaian khusyu’ dalam shalat. Namun kita bisa mengambil contoh pencapaian seseorang yang mirip dengan itu, yaitu ketika ia melakukan meditasi. Para peneliti mengungkapkan, dengan melakukan ritual meditasi, manusia dapat mencapai suatu keadaan dengan konsentrasi mendalam dan tanpa terpecah-pecah. Ia merasa memiliki kendali penuh atas segala sesuatu. Pada kondisi itu, manusia seperti berada di luar dimensi waktu, batas-batas dirinya dan alam secara luas bagai menguap dan hilang.

Mihaly Csikszentmihalyi, seorang tokoh psikologi positif, menyebut kondisi itu dengan “Flow”. Dalam bukunya, Good Business: Leadership, Flow and The Making of Meaning, ia menuliskan, seseorang yang mencapai kondisi “Flow” akan merasakan nikmat yang tak terbayangkan, seolah-olah dirinya menghilang dan serasa waktu berhenti berputar.

Apakah ritual shalat sama dengan meditasi?
Ada bagian-bagian tertentu dalam shalat yang hampir sama dengan meditasi. Melafalkan bacaan shalat dan memahaminya dengan penuh pemaknaan bisa membawa pada kondisi meditatif. Makna bacaan shalat mengandung arti yang jika didalami akan memberi pengaruh secara psikologis. Bacaan shalat juga mengandung rima-rima puitis. Unsur-unsur itu sangat kondusif menciptakan kondisi meditatif.

Namun, shalat berbeda dengan meditasi. Dalam pelaksanaannya, shalat disertai dengan perubahan gerakan yang teratur. Ada saat berdiri, ruku’, sujud, dan duduk. Kondisi “Flow” diyakini berada di antara keadaan sadar dan tertidur. Perubahan gerakan shalat yang teratur itu menjamin seseorang yang melakukannya tak terhanyut dalam keadaan tidur.

Perbedaan ini sekaligus menjadi kelebihan shalat dibanding meditasi. Dan juga untuk menjelaskan bahwa shalat tak bisa diganti dengan meditasi, meski tujuan yang akan dicapai mirip.

Selain itu, ada pengondisian sebelum shalat, yaitu dengan berwudhu. Bagi sebagian sufi, berwudhu tak hanya dimaknai penyucian diri secara fisik [bersih dari najis] saja, tapi juga sebagai sarana untuk bertobat, membersihkan diri dari dosa-dosa. Disyaratkan pula memakai pakaian yang bersih dan mengenakannya dengan rapi. Tempat shalat juga harus suci. Dengan pengondisian itu, akan lebih mudah mencapai kondisi “Flow”.

Ritual shalat, mulai dari berwudhu, berpakaian sesuai yang disyaratkan, mengerjakan gerakan-gerakannya dan melafalkan bacaannya, sangat penting untuk dikerjakan. Dengan melakukannya berulang-ulang [lima kali sehari], ritual shalat bisa menjamin sorang Muslim mencapai kondisi khusyu’.

Dimensi Substansi [Esensi]
Shalat memunyai makna sebagai do’a dan sarana bagi hamba menghadap Sang Khalik. Jalaluddin Rumi melihat shalat sebagai percakapan paling dalam dan mesra antara pecinta [hamba] dan yang dicinta [Allah]. Rumi juga memahami shalat [yang di dalamnya dibaca surah al-Fâtihah] sebagai cahaya panca indera atau cahaya bagi kehidupan manusia.

Ibn Qayim Al-Jauziyah dalam karyanya Asrâr al-Shalâh menuliskan, shalat adalah cahaya bagi para pecinta Allah, kenikmatah ruh bagi para pengesa- Nya, taman bagi ahli ibadah, kenikmatan jiwa bagi yang khusyu’, bukti bagi para pencari kebenaran dan timbangan bagi para pencari hakikat. Shalat adalah rahmat dan kasih sayang Allah yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Dengan memahami itu, tentu kita akan berhati-hati melaksanakannya. Bukan hanya mengerjakan tapi menegakkan shalat dengan memenuhi semua syarat dan rukunnya, termasuk dengan thuma’nînah.

Shalat tanpa dilandasi dengan pengetahuan akan esensinya tak bisa menghadirkan hati. Shalat dikerjakan sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja. Tanpa kehadiran hati itu, shalat sering dikerjakan dengan terburu-buru. Rasulullah Saw menggambarkannya “bagai seekor burung yang mematuk-matuk makanannya”.

Shalat Khusyu’ Pencegah Perbuatan Keji dan Munkar
Manfaat terbesar dari melaksanakan shalat dengan khusyu’ [shalat yang menghadirkan ketenangan hati] adalah terhindarnya dari perbuatan keji dan munkar.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Seseorang yang khusyu’ shalatnya, hatinya akan penuh dengan kehadiran Allah, terpenuhi dengan rasa cinta yang meluap-luap kepada-Nya. Dengan begitu tak ada lagi tempat untuk dorongan kecintaan yang berlebihan pada sesuatu yang bersifat duniawi, apalagi dorongan untuk berbuat kejahatan. Dorongan negatif tak mendapat ruang, lama-kelamaan bisa tersingkir dari hati. “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang – dua buah hati dalam rongganya” [QS al-Ahzâb[33]: 4].

Keadaan hati yang tenang, membuat seseorang selalu berhati-hati dalam berperilaku, jangan sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang tak sesuai dengan kehendak-Nya. Ia juga akan berusaha menyukai apa yang disukai Allah, termasuk mencintai dan menyayangi semua mahkluk ciptaan-Nya.

Selain itu, ketenangan hati yang terus menerus diulang, akan mewujud dalam sifat dan perilaku yang sabar, santun dan bersahaja.

Mengingat pentingnya dimensi ritual dan substansi shalat, hendaknya kita tak mengabaikan salah satunya. Semoga keduanya selalu bisa kita usahakan, sehingga kekhusyu’an bisa kita capai dan berulang terus-menerus dalam kehidupan kita.

Dalam Islam, dimensi lahir dan dimensi batin shalat itu tak dapat dipisahkan. Shalat bukan hanya ritual tanpa esensi atau hikmah. Sebaliknya tidak dicapai esensi tanpa ritual. Kedua dimensi shalat akan kita peroleh apabila kita melakukan shalat dengan sebaik-baiknya, sesuai syarat, rukun, dan adabnya. « [imam]

[Direktori]
Serba-Serbi Fiqih Shalat
Shalat dalam syariat Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Allah menempatkan shalat sebagai kewajiban yang dibebankan pada tiap Muslim yang sudah baligh, berakal, tanpa terkecuali baik laki-laki maupun perempuan. Untuk meningkatkan kualitas ibadah shalat, maka di bawah ini ada beberapa fiqih shalat sederhana yang mudah untuk diikuti dan dijadikan pedoman, namun kerap terlupa, di antaranya:

Tayammum
Tayammum adalah mengusap muka dan dua tangan sampai siku menggunakan debu atau tanah yang suci dengan beberapa persyaratan sebagai pengganti wudhu.
Persyaratan tayammum:

  • Telah masuk waktu shalat.
  • Tidak mendapatkan air setelah berusaha mencarinya.
  • Berhalangan menggunakan air, misalnya karena sakit.
  • Menggunakan debu atau tanah yang suci.

Fardhu tayammum:

  • Niat [dalam hati]. Adapun lafadz niat tayammum adalah: Nawaituttayammuma li-istibaahatish shalaati fardlan lillahi ta’alaa [Aku niat bertayammum untuk dapat mengerjakan shalat fardhu karena Allah Ta’alaa].
  • Meletakkan dua belah telapak tangan di atas debu pada dinding rumah untuk diusapkan ke muka dua kali usapan.
  • Meletakkan kembali kedua belah telapak tangan di dinding untuk diusapkan ke kedua belah tangan hingga siku dua kali usapan. Dahulukan tangan yang kanan.

Yang membatalkan tayammum:

  • Apa saja yang membatalkan wudhu.
  • Menemukan air sebelum shalat [kecuali bila sakit].

Jamak dan Qashar
Shalat Jamak:
Shalat Jamak yaitu menggabungkan antara dua waktu shalat dalam satu waktu. Adapun dua waktu shalat yang boleh di jamak adalah: Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’.

Shalat jamak ada dua macam:

  • Jamak Taqdim: menjamak di awal waktu shalat pertama. Contoh: menjamak Zhuhur dengan Ashar saat waktu Zhuhur, atau menjamak Maghrib dan Isya’ diwaktu Maghrib.
  • Jamak Takhir: Menjamak dua shalat dan dikerjakan di waktu shalat yang kedua. Contoh: Menjamak Zhuhur dan Ashar dan melakukannya di saat Ashar, atau menjamak Maghrib dan Isya’ dan melakukannya di saat Isya’.

Syarat dapat melakukan shalat jamak:

  • Dalam berpergian dan berpergiannya bukan untuk bermaksiat kepada Allah.
  • Dalam peperangan.
  • Muslim yang bermukim boleh menjamak shalat apabila cuaca sangat buruk, atau bencana alam.
  • Orang sakit boleh menjamak shalat jika ia mendapatkan kesulitan untuk mengerjakan shalat-shalat tersebut pada waktunya.

Shalat Qashar:
Shalat Qashar yaitu meringkas shalat atau menjadikan shalat empat rakaat menjadi shalat dua rakaat. Shalat yang boleh di-qashar adalah Zhuhur, Ashar dan Isya. Adapun shalat Maghrib dan Shubuh tidak bisa di-qashar.

Syarat dapat melakukan shalat qashar:

  • Dalam perjalanan, dan jarak perjalanan sekurang-kurangnya dua hari perjalanan kaki atau tiga farsah [3 mil], seperti yang diriwayatkan Imam Ahmad, Muslim, dan Abu Daud dari Baihaqi dari Yahya bin Yazid. Ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas bin Malik tentang shalat qashar. Beliau menjawab, ‘Rasulullah Saw meng-qashar shalat jika bepergian tiga mil atau tiga farsakh.’”
  • Berpergian bukan untuk maksiat.

Masbuk:
Masbuk adalah makmum yang mengikuti imam setelah imam memulai shalat. Adapun untuk makmum yang masbuk maka dirinci sebagai berikut:

Pada saat shalat Jum’at:
Ada beberapa perbedaan pendapat tentang jemaah masbuk. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa seorang masbuk yang masih dapat mengikuti shalat Jum’at imam walau pada bagian akhir shalatnya –misalnya pada saat tasyahhud atau sujud sahwi– maka ia berkewajiban menyempurnakan shalat Jum’at pada bagian yang dinilai belum dikerjakannya bersama imam, dan shalatnya adalah shalat Jum’at.

Pendapat ini dianut juga oleh pakar hukum Abu Yusuf, berdasarkan sabda Nabi Saw: “Apa yang kamu dapati imam melakukannya maka lakukanlah dan yang luput dari kamu [tidak dapat kamu lakukan bersama imam], maka qadha-lah yakni sempurnakan sisanya.” [HR Bukhari dan Muslim].

Sedangkan Imam Syafi’i, bahkan mayoritas ulama berpendapat bahwa apabila sang masbuk masih mendapati imam masih sedang melaksanakan rakaat kedua, yakni sebelum imam mengangkat kepala dari ruku’ rakaat kedua, maka sang masbuk mengikuti imam dan setelah salam, ia melanjutkan satu rakaat lagi, karena shalatnya dinilai shalat Jumat.

Tetapi, jika ia mendapati imam telah bangkit dari ruku’nya, walau masih sedang akan sujud, maka ia tidak lagi dinilai shalat Jumat, karena itu ketika sang imam mengakhiri shalatnya, yang masbuk harus melanjutkan untuk melaksanakan shalat Zhuhur.

Pada saat sedang melakukan shalat wajib:

  • Masbuk pada shalat dua rakaat maka duduknya hanya iftirasy.
  • Masbuk dalam shalat yang lebih dari dua rakaat dan imam sudah duduk tasyahud akhir, maka ada dua kemungkinan:

1. Makmum tertinggal dua rakaat atau lebih. Maka dalam kondisi ini makmum iftirasy dan tidak mengikuti imam, mengingat bahwa Nabi saat shalat dua rakaat duduk dengan iftirasy.
2. Makmum tertinggal satu rakaat maka posisi duduknya adalah tawarruk sama dengan imamnya sebagaimana cara Nabi dalam shalat yang lebih dari dua rakaat.

Posisi imam dan makmum dalam shalat berjamaah:
1. Dua orang laki-laki [gambar]
“Aku shalat bersama nabi Saw di suatu malam, aku berdiri di samping kirinya, lalu nabi Saw. memegang bagian belakang kepalaku dan menempatkan aku di sebelah kanannya.” [HR Bukhari]

2. Tiga orang laki-laki atau lebih [gambar]
“Nabi Saw. berdiri shalat magrib, lalu aku datang dan berdiri di samping kirinya. Maka beliau menarik diriku dan dijadikan di samping kanannya. Tiba-tiba sahabatku datang [untuk shalat], lalu kami berbaris di belakang beliau dan shalat bersama Rasulullah.” [HR Ahmad]

3. Satu laki-laki dan satu wanita [gambar]
“Bahwa beliau shalat di belakang Rasulullah bersama seorang yatim, sedangkan Ummu Sulaim berada di belakang mereka.” [HR Bukhari dan Muslim]

4. Dua wanita [gambar]
“…dan menempatkan aku di sebelah kanannya.” [HR Bukhari]

5. Dua laki-laki dan satu wanita atau lebih [gambar]
Perpaduan antara hadits ibnu Abbas:
“…dan menempatkan aku di sebelah kanannya.” [HR Bukhari]
Dan hadits Anas bin Malik:
“Sedangkan Ummu Sulaim berada di belakang mereka.” [HR Bukhari dan Muslim]

6. Tiga orang wanita atau lebih [gambar]
Hadist Aisyah as. “Bahwa Aisyah shalat menjadi imam bagi kaum wanita. Beliau berdiri di tengah shaf.” [HR Baihaqi, Hakim, Daruquthni dan Ibnu Abi Syaibah].

7. Beberapa laki-laki dan wanita [gambar]
Hadits Abu Hurairah:“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling pertama. Dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik wanita adalah yang paling terakhir, dan seburuk-buruknya adalah yang paling pertama.” [HR Muslim]

8. Bila ada anak-anak [gambar]
Hadits Abu Malik Al’Asyari: “Bahwa nabi Saw. Menjadikan [shaf] laki-laki di depan anak-anak, anak-anak di belakang mereka sedangkan kaum wanita di belakang anak-anak.” [HR Ahmad]

Keterangan:
[gambar] Imam laki-laki
[gambar] Imam perempuan
[gambar] Makmum laki-laki
[gambar] Makmum perempuan
[gambar] Anak-anak
« [esthi]

Bahan:

  • Panduan Pintar Shalat – Dr. KH. Muslih Abdul Karim, LC, MA dan Muhammad Abu Ayyash
  • Bimbingan Ibadah Shalat Lengkap – Imam Bashori Assayuthi
  • Majalah ar-Risalah
  • Berbagai sumber

Sumber: http://alifmagz.com/2009/07/09/mencapai-khusyu%E2%80%99-dalam-shalat/

Pos ini dipublikasikan di Arsip, Shalat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s