Amal Dakwah Yang Profesional

Amal Dakwah Yang Profesional

Dikirim oleh DR. Amir Faishol Fath pada 9 April 2008

dakwatuna.com – الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ(3)ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ(الملك4)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” Al Mulk:3-4

Kata profesional (itqaan) artinya teliti, sungguh-sungguh, serius, rapi dan sempurna. Tidak ada di dalamnya main-main. Semua perbuatan Allah mutqin. Maka ciptaan-Nya sangat sempurna. Ayat di atas menggambarkan salah satu contoh dari kesempurnaan ciptaan Allah. Imam Ash Shuyuthi menulis sebuah buku berjudul ”Al Itqaan fii uluumil Qur’an”. Dan siapapun yang membaca buku ini, benar-benar tahu bahwa buku tersebut mencerminkan judulnya. Apa saja yang berkenaan dengan ilmu-ilmu Al Qur’an dibahasa oleh Imam Ash shuyuthi secara mendalam. Tidak hanya itu, buku ini sangat lengkap, mencakup berbagai pembahasan yang berkenaan dengan Ulumul Qur’an –ilmu-ilmu tentang Al Qur’an-. Para ulama mengatakan bahwa buku inilah yang paling pertama dan sempurna membahas tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Al Qur’an. Siapapun yang ingin memahami seluk-beluk Al Qur’an, sangat di anjurkan –kalau tidak mau dikatakan diwajibkan- membaca buku ini.

Allah Tidak Pernah Main-main

Ayat di atas menggambarkan betapa Alah swt. dalam menciptakan langit benar-benar rapi dan seimbang. Tidak cacat sedikitpun. Perhatikan Allah menantang siapa saja, untuk melihat dan melihat sekali lagi. Lihatlah dengan kaca mata biasa atau lihatlah dengan kaca mata tehnologi yang paling canggih. Itu semua akan membuktikan bahwa penciptaan langit benar-benar sempurna. Dari ayat ini nampak beberapa makna yang penting untuk kita garis bawahi dalam pembahasan ini:

Pertama, bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam segala ciptaan-Nya. Setiap ciptaan Allah di alam semesta ini adalah mengagumkan. Maka sungguh tidak masuk akal jika kamudian manusia main-main. Tidak bersungguh-sungguh mentaati Allah swt.

Coba renungkan, alasan apa untuk kita main-main? Akal sehat yang mana yang mengatakan bahwa semua ciptaan yang demikian agung ini tujuannya hanya untuk tertawa-tawa, makan-minum-tidur? Sebegitu serius Allah menciptakan langit, lalu kemudian manusia yang diam di bawahnya tidak pernah memperhatikannya. Kalaupun memperhatikannya dan melakukan penelitian untuknya tetapi semua penelitian itu tidak untuk mengenal Pencipta-Nya, melainkan hanya sekedar untuk menjadi dokumentasi pengetahuan belaka.

Yang lebih celaka lagi, adalah justru setelah menyaksikan keagungan angkasa raya, malah mengatakan semua itu terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakan-Nya? Benarkan kerapian sistem yang demikian luar biasa ini terjadi dengan sendirinya? Akal sehat yang mana yang mau menerima pernyataan bahwa itu terjadi dengan sendirinya?

Di dalam Al Qur’an Allah swt. selalu mengingatkan tentang bukti-bukti keagungan ciptaan-Nya, supaya manusia tahu bahwa tidak mungkin itu terjadi tanpa ada yang menciptakannya. Dalam surat Ar Rahman Allah swt. secara khusus mengulang-ulang pertanyaan untuk menggugah akal manusia. Menggugah agar melihat bahwa semua itu karena Allah swt. yang mengaturnya. Bahkan pertanyaan-pertanyaan itu diulang sampai 31 kali. Dan di antara yang Allah sebutkan adalah penciptaan langit, Allah berfirman:
”Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” Ar Rahman 7-9.

Sungguh luar biasa keseimbangan yang Allah tegakkan. Karena itu Allah berpesan dalam ayat ini: Janganlah sekali-kali kamu melanggar keseimbangan ini. Sebab sedikit kita melanggar, pasti akan membawa malapetakan, tidak saja kepada lingkungan di mana kita hidup, tetapi kapada diri kita sendiri. Akibat lebih jauh, Allah sangat murka kepada orang-orang yang asal-asalan berbuat di muka bumi. Asal-asalan maksudnya tidak mau ikut aturan yang telah Allah letakkan. Kemurukaan Allah –kalau tidak segera dibalas dengan taubat- tentu pada gilirannya dilanjutkan dengan adzab-Nya. Itulah yang pernah Allah tunjukkan kepada kaum Aad, Tsamud dan kaum Fir’aun.

Perhatikan betapa setiap perbuatan yang didasarkan atas main-main pasti akan membawa malapetaka terhadap kemanusiaan. Karena itu tidak ada pilihan dalam mejalani ketaatan kepada Allah kecuali bersungguh-sungguh dengan penuh keseriusan tanpa sedikitpun main-main.

Kedua, bahwa Allah menantang ”challange” siapapun untuk benar-benar mengecek kerapian ciptaan-Nya. Mengapa? Supaya manusia tahu bahwa semua itu tidak pantas dibalas dengan main-main. Tapi sayangnya, masih banyak, bahkan mayoritas manusia yang main-main. Karena itu seorang mu’min dalam menegakkan ibadah kepada Allah jangan asal-asalan. Dalam pembukaan surah Al Mu’minun ketika Allah swt. menyebutkan ciri-ciri orang beriman hakiki, menyebutkan di antaranya bahwa shalat harus khusyu’ (alladziina hum fii shalaatihim khaasyi’un) bukan asal shalat. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam buknya ”Majmu’ Fatawa”, bahwa khusyu’ dalam shalat merupakan kwalitas yang harus dicapai. Sebab Allah swt. dalam surat Al Mu’minun tersebut menjadikannya sebagai syarat untuk mencapai kebahagiaan. Artinya seseorang tidak akan bisa meraih kebahagiaan jika shalatnya tidak khusyu’.
Dalam banyak ayat mengenai shalat, Allah swt. selalu menggunakan kata aqaama – yuqiimu yang artinya menegakkan. Dalam pembukaan surat Al Baqarah misalnya Allah berfirman: wayuqiimuunash shalaata. Mengapa Allah tidak berfirman: wayushalluuna? Imam Al Jashshash dalam tafsirnya ”Ahkamul Qur’an” membahas rahasia ungkapan ini secara mendalam dan panjang lebar. Kesimpulannya bahwa di dalam kata aqaama-yuqiimu terkandung maknan keharusan menegakkan dengan serius dan sungguh-sungguh. Maksudnya bahwa seseorang dalam menegakkan shalat harus benar-benar memenuhi hak shalat, rukun dan khusyu’nya, ketepatan waktunya, dikerjakan secara berjamaah di masjid, wudhu’nya pun sebagai syarat sahnya shalat harus juga benar. Tempat dan pakaian harus bersih dan suci. Semua itu adalah gambaran dari kesungguhan seseorang dalam menegakkan shalat.

Keharusan Profesionalisme Dalam Berdakwah

Bila dalam ayat di atas Allah swt. menunjukkan bahwa segala ciptaan-Nya sangat rapi, itu menunjukkan bahwa tidak benar seseorang dalam menyembah Allah asala-asalan. Apalagi dalam berdakwah kepada-Nya, yang segala gerak dan arahnya sangat berkaitan dengan selamat tidaknya orang banyak. Maksudnya bila seseorang berdakwah ke jalan yang salah, berapa banyak manusia yang tersesat karenanya. Sebaliknya bila seseorang berdakwah ke jalan yang benar, maka sungguh begitu banyak manusia yang akan menikmati buah keselamatan karenanya.

Para ulama terdahulu terkenal dengan keitqaanannya (baca: jiwa profesional) dalam mencari ilmu, mendokumentasikan dan mengamalkannya. Berbagai buku yang mereka tulis dalam berbagai bidang: tafsir, hadits, kedokteran, sejarah dan sebagainya semua mencerminkan bahwa itu semua merupakan buah kerja keras yang sangat serius. Bukan kerja main-main dan asal-asalan. Bahwa itu lahir dari spirit kesadaran amanah yang kelak di hari Kiamat pasti akan mereka pertanggungjawabkan. Mereka takut kalau ternyata ilmu yang mereka berikan salah.

Karena itu banyak kisah-kisah yang sangat mengesankan tentang perjuangan mereka dalam berdakwah dan mencari Ilmu. Disebutkan bahwa Imam Al Ahmad bin Hanbal pernah berjalan kaki sejauh 30 ribu mil untuk mencari hadits. Disebutkan bahwa Iman Ibnu Hibban berlajar hadits dari 2000 syaikh.
Di lapangan dakwah kita tidak bisa melukiskan dengan kata-kata bagaimana agungnya pengorbanan para sahabat, para tabiin dan para ulama untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran Allah di muka bumi. Tidak terhitung dari mereka yang mati syahid dalam berbagai pertempuran karena membela agama Allah. Tidak sedikit dari para ulama yang meninggalkan tanah air mereka untuk mengajarkan hukum-hukum Allah. Bahkan banyak dari mereka yang meniggal dunia di tempat yang jauh dari negeri kelahiran mereka.

Bila kita teliti dari perjuangan Rasulullah saw. para sahabat dan para salafush shaleh dalam berdakwah, ada beberapa ciri yang menunjukkan keitqaanan yang mereka lakukan.

1. Mereka benar-benar serius mencari ilmu dan mengajarkannya. Mereka tahu bahwa agama ini tidak mungkin tegak tanpa pemahaman yang benar. Karenanya masalah ilmu bagi para ulama adalah fondasi utama yang harus dicapai sebelum langkah-langkah lainnya.
2. Mereka benar-benar paham Islam secara komprehensif, karenanya mereka mengajarkan agama Islam secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal.
3. Mereka benar-benar berkorban waktu, pikiran, tenaga dan bahkan jiwa raga dalam berusaha dalam menyebarkan ajaran Allah.
4. Mereka benar-benar jujur dalam berdakwah. Artinya mereka tidak hanya mengajak orang lain mentaati Allah, melainkan mereka sendiri bersunggu-sungguh mengamalkannya.
5. Mereka benar-benar paham bahwa dakwah bukan hanya bicara dan pidato, melainkan kesungguhan bergerak secara kolektif dan kerjasama, dalam bentuk organisasai yang rapi.
6. Mereka benar-benar berusaha menyatukan umat Islam, bukan memecah belah di antara mereka. Sebab mereka tahu bahwa keberkahan dan pertolongan Allah akan turun ketika umat ini bersatu. Pun mereka tahu bahwa dakwah yang benar adalah ajakan istiqamah mengamalkan Islam, bukan ajakan fanatik kepada golongan.
7. Lebih dari itu, mereka benar-benar ikhlash dalam beramal menyebarkan Islam. Sebab mereka tahu bahwa kunci sukses dalam mendapatkan kemenangan adalah ikhlas. Pun mereka tahu bahwa Allah tidak akan menurunkan bantuan-Nya tanpa keikhlasan. Lebih jauh bahwa syetan tidak akan mampun menghalang-halangi langkah-langkah dakwah selama para pelaku dakwan berjiwa ikhlas.

Inilah beberapa ciri itqaan dalam berdakwah, dari sini nampak bahwa keharusan membangun spirit itqaan dalam beramal di lapangan dakwah adalah prinsip yang tidak bisa disepelekan. Wallahu a’lam bishshawab.

Pos ini dipublikasikan di Arsip, Shalat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s