Sejarah Tasawuf #4

by Tri Wibowo BS
[….] Setelah itu al-Hallaj bepergian melalui laut ke India bersama seorang utusan Mu’tadid yang kelak menjadi khalifah. Ini menandai perjalanan panjang keduanya selama lima tahun di mana “misinya” adalah untuk berdakwah kepada orang kafir Turki di luar Sungai Oxus dan kepada penduduk India barat yang baru sedikit diislamkan oleh misionaris syi’ah radikal. Pada periode inilah beliau menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh penting dinasti Samanid di Khurasan. Mereka ini tetap setia dan membela Syekh al-Hallaj dari tuduhan dan kecaman penguasa Abbasiyah di Baghdad saat beliau hendak dihukum mati pada 309/922. Syekh al-Hallaj berdakwah menentang ajaran dualisme Manichean (zandaqa) yang dianut oleh kaum Uyghur Turki dan orang-orang kafir lain yang berada di luar Dar al-Islam tetapi, ironisnya, pada saat Syekh al-Hallaj diadili kelak, beliau dituduh mengajarkan ajaran sesat tersebut.

Setelah kembali ke Baghdad sekitar tahun 290/902, muncul penentangan terhadapnya. Tokoh terpenting yang menentangnya adalah seorang ulama dan pengikut neo-Platonis yang menguasai persoalan tentang ajaran cinta, yakni Muhammad Ibn Dawud (w. 296/908). Tokoh inilah yang mengawali kecaman resmi kepada Syekh al-Hallaj (melalui karyanya Fatwa bi takfir al-Hallaj). Tuduhan ini langsung dilaporkan kepada Khalifah Mu’tadid. Tetapi muncul pembelaan dari ulama terkemuka lainnya, Ibn Surayj yang bermazhab Syafii (w. 305/917), yang menulis fatwa (Fatwa bi tawaqquf … hal al-Hallaj) yang menyatakan bahwa inspirasi mistis (ilham) adalah bidang yang berada diluar kompetensi ulama fiqh atau syariah. Persoalan ilham ini, yang sering dihubungkan dengan ajaran Syekh al-Hallaj dan sufi-sufi yang tenggelam dalam “cinta ekstatis,” sesungguhnya sudah sejak lama diperdebatkan dalam kerangka perintah dan larangan hukum agama (syariat).

Untuk menghindari penyidikan oleh lembaga resmi, Syekh al-Hallaj kemudian melakukan ibadah haji yang ketiga, kali ini beliau tinggal selama dua tahun untuk menyendiri, merenungi Qur’an, melakukan ibadah yang ketat, membersihkan hati, yang kelak membuatnya mampu mengeluarkan ucapan ekstatik (shath). Ini adalah persiapan final dari “kesaksian kehadiran” (shahid ani) cinta abadi. Murid-muridnya percaya bahwa keadaan ini ditunjukkan oleh tanda-tanda dari ibadahnya yang ekstrim dan ketaatannya yang luar biasa dalam menjalankan ritual dasar ajaran Islam. Salah satu tandanya adalah ucapannya saat berada di padang Arafat, di mana beliau menyatakan kesiapannya untuk menjadi korban, mengalami hujatan dan kematian seperti yang dialami Nabi Isa, demi menyucikan umatnya. Beliau bahkan memohon kepada Tuhan agar mengizinkan dirinya mati dikutuk oleh umat Islam yang keadaannya sudah memburuk dan terpecah-belah. en Beliau juga memohon agar setiap aspek dari dirinya bisa “lenyap” melalui “Cinta-Mu.”

Beliau meninggalkan kota suci Mekah dan Medinah untuk terakhir kalinya, dan kembali ke Baghdad melalui Yerusalem. Beliau kembali tinggal bersama keluarganya, kawan-kawan dan murid-muridnya di Tustar. Beliau membangun miniatur kabah yang diagungkannya secara simbolik dan secara pribadi di sekitar miniatur kabah ini beliau melakukan ritual ibadah haji yang biasanya dilakukan dalam ibadah haji yang sesungguhnya di Mekah. Karena tindakannya ini, dan karena beliau diduga pernah menyatakan bahwa diperbolehkan melakukan ibadah haji di miniatur kabah ini untuk mengganti ibadah haji di Kota Suci jika seseorang tidak mampu secara finansial atau fisik untuk melakukan perjalanan ke Mekah, maka oleh musuh-musuhnya beliau dituduh hendak merusak sendi-sendi hukum Islam. Meskipun demikian, sebenarnya ada beberapa fakta historis tentang penggantian tersebut, seperti yang dilakukan oleh seorang khalifah yang membangun miniatur kabah di Samarra pada tahun 830-an untuk para tentara bayaran dari Turki. Pada periode ini pula dakwah Syekh al-Hallaj semakin bersemangat dan difokuskan demi kerinduannya untuk mati syahid: atas nama hukum Islam dan demi kebaikan umat.

Selama sembilan tahun berikutnya, yakni sekitar 913-921/922, ruang gerak Syekh al-Hallaj dibatasi hanya di seputar istana di bawah pengawalan ketat Bendaharawan Agung Nasr dan pendukung lainnya. Pada periode ini Hallaj menulis karya-karyanya yang terakhir. Di antara karyanya ini yang paling utama adalah kitab Ta Sin al-Azal. Pada tahun 921 beliau dipindahkan selama “sekitar setahun” ke penjara, di sebuah bangunan yang terpisah dari istana di mana beliau masih bisa menerima tamu. Kemudian muncul peristiwa politik selanjutnya yang membuat pengadilan Hallaj menjadi tak terhindarkan. Intrik-intrik politik di dalam istana menyeret Syekh al-Hallaj. Abu Muhammad Hamid ibn al-Abbas, seorang pejabat tinggi, yang juga musuh utama Syekh al-Hallaj, melakukan manuver-manuver politik untuk menyingkirkan para lawan politiknya, seperti Ibn Isa dan Bendaharawan Nasr, yang mendukung Syekh al-Hallaj.

Karena waktu itu Syekh al-Hallaj dituduh menyebarkan bid’ah dan juga adalah tokoh yang didukung oleh Ibn Isa dan Nasr, maka Hamid memanfaatkan Syekh al-Hallaj untuk memperoleh kembali kekuasaannya. Jika ia bisa membawa al-Hallaj ke pengadilan, maka ini akan sangat berpengaruh terhadap Ibn Isa dan Nasr. Rencananya adalah meminta Muqtadir untuk tidak melibatkan Ibn Isa dalam kasus Syekh al-Hallaj dan membawanya ke pengadilan, sekaligus membatasi keterlibatan Nasr. Tokoh lainnya, yakni Ibn Mujahid, ulama penghafal Qur’an yang memusuhi Hallaj dan para sufi lainnya, mendukung proses rencana ini. Para pendukung Syekh al-Hallaj dari penganut mazhab Hanbali melakukan demonstrasi menentang Hamid dengan alasan yang sama seperti yang diajukan oleh murid Syekh al-Hallaj paling setia, Ibn Atta, yang pernah menjadi saksi pembela Syekh al-Hallaj di pengadilan terdahulu. Tetapi demonstrasi ini justru menguntungkan rencana Hamid karena demonstrasi membuktikan bahwa Syekh al-Hallaj dan para pengikutnya adalah ancaman bagi hukum dan ketertiban. Ulama dan sejarawan terkemuka yang bermazhab Sunni, Tabari (w.310/923), yang juga salah seorang kawan Ibn Isa, tidak mau turut campur dalam kasus ini dengan alasan dia tidak mau terlibat dalam kekerasan. Sikapnya ini membuat kaum Hanbali berdemonstrasi di depan rumahnya.

Pada akhir Maret 922 Hamid diangkat kembali menjadi menteri setelah manuver politiknya yang brutal berhasil menyingkirkan pendukung Hallaj dari kekuasaan. Dia mendapat mandat dari Khalifah untuk menegakkan ketertiban dan keamanan dengan cara apa saja, mulai dari penangkapan, pengadilan sampai penghukuman mati. Para ahli fiqh dan ulama yang pernah menentang Syekh al-Hallaj kini memperkarakan kembali soal ajarannya yang membolehkan mengganti ibadah Haji ke Mekah dengan ibadah haji di rumah. Ajaran ini dianggap sebagai bukti bahwa Syekah al-Hallaj ingin menghancurkan hukum Islam. Ibn Ata’, ahli fiqh dan murid terdekat Syekh al-Hallaj, menolak menandatangani pernyataan bahwa al-Hallaj bersalah. Tetapi dia berhasil dibunuh oleh Hamid sebelum pengadilan atas Syekh al-Hallaj dilakukan. Tetapi beberapa sumber lain menyatakan bahwa Hamid memaksa Ibn Ata’ untuk bunuh diri. Upaya terakhir Nasr dan Ratu Shaghab untuk membujuk Khalifah Muqtadir agar membatalkan pengadilan mengalami kegagalan. Karena desakan Hamid, akhirnya khalifah menyetujui hukuman mati atas diri al-Hallaj, dengan hukuman yang akan dilakukan dengan cara yang paling kejaam!

Menurut kisah putra Syekh al-Hallaj, yakni Hamd, ayahnya, setelah melakukan shalat tahajud mengulangi kata-kata ‘makr,’ “tipu daya,” sampai malam hampir berakhir. Kemudian, setelah lama terdiam, beliau meneriakkan kata al-Haqq, “Kebenaran.” Kemudian mengenakan jubahnya, menghadap ke arah Mekah dan membaca munajat-nya.

Ketika pagi tiba, mereka menyeretnya dari penjara, dengan dirantai. Beliau mengatakan, “Sahabatku memberi aku minum dari cangkirnya, seperti ketika menjamu tamu; tetapi setelah cangkir berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, Dia membawakan tikar untuk hukuman mati dan kemudian pedang akan menebas orang yang meminum anggur bersama sang singa di tengah panasnya musim panas.” Mereka membawanya ke tiang penggantungan di hadapan massa yang membludak. Mereka memotong tangan dan kakinya setelah mencambuknya sebanyak 500 kali. Menurut penjelasan Attar (dalam Tadhkirat), Syekh al-Hallaj “melumurkan darah dari tangannya yang dipotong ke wajahnya, sehingga tangan dan wajahnya berlumuran darah.”
“Mengapa engkau melakukan itu,” tanya orang-orang.
“Telah banyak darah yang keluar dari tubuhku,” jawabnya. “Aku tahu wajahku akan pucat. Kalian mungkin mengira wajahku pucat karena aku takut. Aku melumuri darah ke wajahku agar pipiku tampak merah di mata kalian. Kosmetik para pahlawan adalah darah mereka.”
“Tetapi mengapa engkau juga melumuri tanganmu?”
“Aku melakukan wudlu.”
“Wudlu apa?”
“Ketika seseorang shalat dua rakaat karena cinta,” jawab Hallaj, “wudlunya tidak akan sempurna kecuali dilakukan dengan darah.”

“Algojo kemudian mencungkil kedua matanya; kemudian massa melemparinya dengan batu. Setelah itu telinga dan hidungnya diiris. Dia memohonkan ampunan kepada mereka saat mereka hendak memotong lidahnya. Seorang perempuan tua berteriak, “Apa hak pemintal kain ini (hallaj) untuk berbicara tentang Tuhan?” Hallaj kemudian berkata, “Cukuplah bagi pecinta untuk melenyapkan dirinya di hadapan keesaan Yang Maha Esa.” Beliau kemudian digantung di tiang salib. Selama digantung semalaman ini beliau berdoa: “Ya Tuhanku, aku sekarang berada di tempat yang kuinginkan, tempat aku merenungi keagungan-Mu. Ya Tuhanku, aku tahu Engkau memperlihatkan cinta-Mu bahkan kepada orang-orang yang bersalah kepada-Mu; jadi bagaimana mungkin Engkau tidak memperlihatkan cintamu kepada orang [yakni al-Hallaj sendiri] yang diperlakukan tidak adil karena Diri-Mu?”

Sahabatnya, Syekh Abu Bakar Shibli, mendekati tiang gantungan dan membacakan ayat “Bukankah kami telah dilarang untuk menerima tamu dari golongan malaikat dan manusia?” [Q.S. 15:70]. Kemudian Syekh al-Shibli bertanya kepada Syekh al-Hallaj, “Apa itu Tasawuf?” Beliau menjawab, “Tingkat yang terendah yang dapat dicapai adalah yang sedang engkau lihat saat ini.” Syekh Shibli kemudian bertanya lagi, “Lalu apa tingkat yang lebih tinggi?” Syekh al-Hallaj menjawab, “Tingkatan itu diluar jangkauanmu; tetapi besok engkau akan melihatnya, sebab tingkatan itu adalah sebagian dari misteri ilahi yang telah aku saksikan tetapi tidak akan terlihat olehmu.” Saat tiba waktu Isya, datang perintah untuk memenggal kepala Hallaj. Akan tetapi petugas mengatakan “Sekarang sudah malam; kami akan memenggalnya esok hari.”

Saat pagi tiba, mereka menurunkannya dari tiang salib dan menyeretnya untuk dipenggal. Beliau berteriak dan berkata dengan keras, “Yang penting bagi seorang sufi adalah bahwa hanya Yang Maha Esa-lah yang akan membawanya ke Kesatuan.” Kemudian beliau membacakan ayat, “Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan; tetapi orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar” [Q.S. 42:18]. Ini adalah kata-katanya yang terakhir, sebab kemudian lidahnya dipotong oleh sang algojo. Kepalanya dipenggal, tubuhnya dibungkus dengan tikar jerami, disiram minyak, dan kemudian dibakar. Abunya dibawa ke puncak menara di Ra’s al-Manara yang terletak di sungai Tigris untuk disebarkan. Dikisahkan konon darah yang mengalir dari tubuh Syekh al-Hallaj membentuk huruf arab Ana al-Haqq .

Seperti apakah ajaraannya?
[Bersambung…]

Triwibs Kanyut
Ikhwan TQN Suryalaya

Pos ini dipublikasikan di Sufisme. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s